Tanyaislamyuk – Ada banyak dinamika psikologi dan komunikasi yang bekerja. Obrolan dengan selingkuhan terasa ringan bukan karena hubungan itu sehat, tapi karena tidak ada beban tanggung jawab, tidak ada konflik nyata yang harus diselesaikan, dan tidak ada sejarah luka yang menumpuk seperti dengan pasangan sah.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika terjadi masalah dalam hubungan atau pernikahan, keretakan kedekatan emosional (interdependensi) antara pacar/ suami–istri bisa membuat seseorang mencari kenyamanan di luar hubungan.
Orang ketiga sering muncul sebagai tempat pelarian emosional. Mereka memberikan dukungan cepat, validasi instan, dan rasa nyaman sementara. Ini membuat seseorang merasa “dimengerti”, padahal itu bukan solusi jangka panjang, hanya respons emosional karena hubungan inti pasangan sedang renggang.
Dalam komunikasi, kalau dua orang punya musuh yang sama, percakapan jadi terasa lebih dekat. Ya, sering kali “musuhnya” adalah pasangan sah. Jadi obrolannya mudah nyambung, karena sama-sama fokus menyalahkan.
Kalau isinya saling serang, hubungan jadi hilang kehangatan. Dengan selingkuhan berbeda: kita tidak menyerang mereka, “musuhnya” pasangan sah. Akhirnya muncul pola: menjelekkan pasangan sah → selingkuhan mendukung → kita merasa dipahami. Rasanya hangat, padahal itu cuma validasi instan, bentuk pelarian emosional.
Kenapa dengan pasangan sah rasanya berat? Karena pasangan sah itu cermin realitas, bukan fantasi. Mereka tahu kamu luar–dalam. Mereka juga capek, punya emosi, dan konflik nyata yang harus diselesaikan. Makanya obrolan terasa lebih “keras”. Kadang beban kehidupan yang semakin berat membuat masing-masing semakin saling menyerang, bahkan untuk hal sepele.
Skill komunikasi itu harus setara, mau sama siapa pun. Kalau dua-duanya gampang menyerang, nggak paham konteks, dan nggak punya emotional control, maka hasilnya sama: rusak juga. Komunikasi itu skill yang membutuhkan usaha, ketenangan, dan keinginan memahami, bukan mau menang sendiri.












