Tanyaislamyuk – Bayangkan suatu hari anda pergi ke masjid dan mendapati putra anda berdiri sebagai imam, memimpin salat dengan bacaan yang tenang dan penuh penghayatan. Hati terasa bergetar, bukan karena bangga semata, tetapi karena teringat doa yang sering dipanjatkan kepada Allah.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
QS. Al-Furqan: 74
Doa ini bukan sekadar harapan memiliki anak, tetapi harapan agar mereka tumbuh dalam iman, berakhlak mulia, dan kelak menjadi teladan dalam ketaatan. Saat melihat anak memimpin salat, terasa bahwa doa itu perlahan dijawab, bukan dengan harta atau kedudukan, melainkan dengan keturunan yang mendekatkan hati kepada Allah.













