Tanyaislamyuk – Di zaman sekarang, banyak hal yang mampu membuat seseorang langsung gelisah. Ketika listrik padam beberapa jam saja, media sosial langsung ramai. Saat aliran air dari PDAM terhenti, keluhan bermunculan di mana-mana. Ketika harga BBM naik, banyak orang mulai menghitung ulang pengeluaran bulanan. Bahkan ketika nilai tukar rupiah melemah, kekhawatiran tentang kondisi ekonomi langsung menjadi bahan pembicaraan.
Semua itu memang wajar. Listrik, air, bahan bakar, dan ekonomi adalah kebutuhan yang berpengaruh besar terhadap kehidupan sehari-hari. Namun ada satu pertanyaan yang layak direnungkan bersama.
Mengapa kita bisa begitu panik ketika urusan dunia terganggu, tetapi sering kali biasa saja ketika meninggalkan sholat?
Padahal bagi seorang Muslim, sholat bukan sekadar rutinitas harian. Sholat adalah tiang agama, penghubung antara hamba dengan Tuhannya. Ketika listrik mati, kita segera mencari solusi. Ketika air tidak mengalir, kita berusaha memperbaikinya. Ketika kendaraan kehabisan bahan bakar, kita segera mengisi kembali.
Tetapi ketika satu waktu sholat terlewat, banyak yang menganggapnya hal biasa. Tidak ada rasa kehilangan. Tidak ada kegelisahan. Tidak ada usaha untuk segera memperbaikinya.
Ironisnya, manusia sering kali lebih takut kehilangan kenyamanan daripada kehilangan kedekatan dengan Allah SWT.
Kita rela mengecek saldo rekening berkali-kali dalam sehari, tetapi jarang mengecek kondisi hati kita sendiri. Kita khawatir jika bisnis menurun, tetapi tidak khawatir ketika ibadah semakin berkurang. Kita takut masa depan dunia menjadi sulit, tetapi lupa mempersiapkan masa depan akhirat yang justru kekal.
Padahal dalam pandangan Islam, keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari seberapa besar penghasilan, seberapa mewah kendaraan, atau seberapa tinggi jabatan seseorang. Keberhasilan sejati adalah ketika seseorang mampu menjaga hubungannya dengan Allah di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk dunia.
Artikel ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Sebab setiap orang memiliki kekurangan dan perjuangannya masing-masing. Namun terkadang kita memang perlu bercermin dan bertanya kepada diri sendiri:
Jika listrik mati saja membuat kita panik, jika air tidak mengalir saja membuat kita gelisah, jika harga BBM naik saja membuat kita resah, lalu mengapa ketika sholat mulai ditinggalkan justru tidak ada rasa khawatir sedikit pun?
Mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya kondisi ekonomi, fasilitas, atau keadaan di sekitar kita. Bisa jadi yang paling membutuhkan perhatian justru kondisi hati dan hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Karena pada akhirnya, listrik bisa kembali menyala, air bisa kembali mengalir, harga bisa berubah, dan nilai mata uang bisa menguat lagi. Tetapi waktu yang telah berlalu tanpa sholat tidak akan pernah kembali. Dan itulah kerugian yang sering kali tidak disadari banyak orang hingga semuanya terlambat.













