Tanyaislamyuk – Pengamat politik sekaligus akademisi Rocky Gerung kembali menjadi sorotan setelah melontarkan kritik terhadap kebijakan yang mewajibkan dosen memiliki kualifikasi pendidikan doktor (S3). Pernyataannya yang bernada satire tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan memicu beragam tanggapan dari masyarakat.
Dalam sebuah forum diskusi yang potongan videonya beredar luas di berbagai platform digital, Rocky Gerung menyampaikan kritik dengan mengatakan, “Lucunya negeri ini, peraturan dosen wajib S3 disahkan oleh segerombolan orang-orang yang cuma lulusan Paket C.” Pernyataan tersebut dipandang sebagai bentuk kritik terhadap proses pembentukan kebijakan di Indonesia.
Rocky menilai bahwa aturan yang berkaitan dengan dunia pendidikan tinggi seharusnya disusun dengan mempertimbangkan masukan dari kalangan akademisi, peneliti, serta para pemangku kepentingan yang memahami persoalan pendidikan secara mendalam. Menurutnya, kualitas regulasi akan lebih baik apabila proses pembahasannya melibatkan berbagai pihak yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.
Di sisi lain, pernyataan Rocky juga memunculkan perdebatan. Sebagian pihak menganggap kritik tersebut merupakan bentuk kebebasan berpendapat yang lazim dalam negara demokrasi. Namun, ada pula yang menilai penggunaan diksi tersebut terlalu keras dan berpotensi menyinggung pihak tertentu.
Perlu diketahui, anggota DPR maupun pejabat yang terlibat dalam pembentukan undang-undang memiliki latar belakang pendidikan yang beragam. Persyaratan untuk menjadi anggota legislatif di Indonesia tidak mewajibkan seseorang memiliki gelar sarjana ataupun doktor. Selama memenuhi syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan, warga negara berhak mencalonkan diri sebagai wakil rakyat.
Sementara itu, kebijakan mengenai peningkatan kualifikasi dosen menjadi jenjang doktor merupakan bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Pemerintah berharap semakin banyak dosen yang memiliki kompetensi akademik dan kapasitas riset yang lebih baik sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, serta daya saing perguruan tinggi.
Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, pernyataan Rocky Gerung kembali membuka ruang diskusi mengenai kualitas penyusunan kebijakan publik, representasi wakil rakyat, serta tantangan dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional. Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa isu pendidikan masih menjadi salah satu perhatian utama masyarakat Indonesia.













