Upacara 17 Agustus Katanya Simbol Persatuan, Tapi Kenapa Rakyat Berdiri Kepanasan Sementara Pejabat Duduk Nyaman di Bawah Tenda?

01k2vy2t2sayet0a76bwjqwydc

Tanyaislamyuk – Setiap tanggal 17 Agustus, kita kembali mendengar kata-kata yang sama: persatuan, perjuangan, pengorbanan, nasionalisme, dan penghormatan kepada para pahlawan.

Bendera Merah Putih dikibarkan.

Lagu kebangsaan dinyanyikan.

Pembacaan Proklamasi dilakukan.

Semua berdiri dengan sikap sempurna.

Namun, ada satu pemandangan yang terkadang justru membuat makna persatuan itu terasa janggal.

Peserta upacara berdiri berbaris di bawah terik matahari. Sementara sebagian pejabat dan tamu undangan duduk nyaman di bawah tenda yang teduh.

Di depan mereka tersedia kursi.

Ada air minum.

Ada snack.

Ada buah.

Bahkan terkadang tersedia fasilitas tambahan agar mereka tetap nyaman selama upacara berlangsung.

Sementara anak-anak sekolah, guru, petugas upacara, dan peserta lainnya harus menahan panas matahari demi mengikuti upacara sampai selesai.

Lalu muncul pertanyaan sederhana:

Bukankah kita sedang memperingati kemerdekaan yang diperjuangkan untuk seluruh rakyat?

Jangan Salah Pahami, Ini Bukan Soal Snack

Kalau ada yang mengatakan, “Memangnya salah pejabat makan snack?”

Tentu tidak.

Makan snack bukan sebuah kejahatan.

Minum air mineral juga bukan sebuah kemewahan yang haram dinikmati pejabat.

Begitu pula penggunaan tenda bukan sesuatu yang otomatis salah.

Yang patut dipertanyakan adalah ketimpangan perlakuannya.

Ketika sebagian orang mendapatkan tempat teduh dan nyaman, sementara sebagian lainnya harus berdiri lama di bawah matahari, masyarakat tentu bisa melihat adanya perbedaan perlakuan.

Apalagi jika kegiatan tersebut dibungkus dengan narasi persatuan dan kebersamaan.

Karena persatuan bukan hanya slogan yang dibacakan dari podium.

Persatuan juga harus terlihat dalam tindakan.

Kalau Panas, Bukankah Pejabat Juga Bisa Ikut Berdiri?

Bayangkan seorang pejabat datang ke lokasi upacara.

Ia melihat ratusan peserta berdiri di bawah matahari.

Alih-alih langsung menuju kursi di bawah tenda, ia memilih berdiri bersama mereka.

Sederhana.

Tidak membutuhkan anggaran besar.

Tidak membutuhkan protokol yang rumit.

Tetapi dampaknya bisa luar biasa.

Anak-anak sekolah akan melihat:

“Ternyata pemimpin kami juga mau merasakan apa yang kami rasakan.”

Itulah yang disebut keteladanan.

Sebab seorang pemimpin tidak selalu harus menunjukkan kepemimpinan melalui pidato panjang.

Kadang-kadang, cukup dengan berdiri bersama rakyat.

Para Pahlawan Tidak Bertanya, “Di Mana Tempat Teduh Saya?”

Kita tentu tidak bisa menyamakan kondisi perjuangan kemerdekaan dengan upacara pada zaman sekarang.

Namun semangatnya tetap bisa direnungkan.

Para pejuang kemerdekaan menghadapi berbagai kesulitan.

Mereka tidak memiliki fasilitas seperti yang kita nikmati hari ini.

Mereka mempertaruhkan tenaga, waktu, bahkan nyawa.

Mereka tidak berjuang agar kelak hanya sebagian orang yang menikmati kemerdekaan.

Mereka berjuang untuk Indonesia.

Untuk rakyat.

Untuk generasi yang bahkan belum mereka kenal.

Maka sangat ironis apabila semangat pengorbanan tersebut diperingati dalam suasana yang justru memperlihatkan perbedaan kenyamanan berdasarkan posisi.

Jangan Sampai Anak-Anak Justru Belajar Hal yang Salah

Ini yang mungkin lebih penting.

Anak-anak yang mengikuti upacara sebenarnya sedang belajar.

Mereka belajar disiplin.

Mereka belajar menghormati bendera.

Mereka belajar sejarah.

Mereka belajar nasionalisme.

Tetapi mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat.

Jika yang mereka lihat adalah rakyat harus berdiri kepanasan sementara orang yang memiliki jabatan mendapatkan tempat paling nyaman, mereka bisa saja menangkap pesan yang tidak pernah kita maksudkan:

“Kalau punya jabatan, kamu mendapatkan fasilitas. Kalau bukan pejabat, ya tahan panas.”

Padahal, bukankah pendidikan karakter seharusnya mengajarkan hal sebaliknya?

Bahwa orang yang memimpin justru harus memberikan contoh.

Bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menunjukkan kepedulian.

Pejabat Tidak Harus Menderita, Tapi Bisa Menunjukkan Solidaritas

Tentu kita tidak sedang mengatakan bahwa pejabat harus dibuat sengsara.

Bukan itu persoalannya.

Jika kondisi cuaca ekstrem, peserta memang seharusnya mendapatkan perlindungan.

Jika ada peserta yang berisiko mengalami dehidrasi, mereka harus mendapatkan air minum.

Jika upacara berlangsung lama, panitia seharusnya memikirkan keselamatan seluruh peserta.

Justru fasilitas yang nyaman seharusnya diperluas kepada peserta, bukan hanya diberikan kepada tamu penting.

Kalau ada tenda, mengapa tidak dibuat agar peserta juga terlindungi?

Kalau ada air minum, mengapa tidak memastikan semua peserta mudah mendapatkannya?

Kalau ada fasilitas kesehatan, mengapa tidak disiapkan secara memadai untuk seluruh peserta?

Bukankah itu jauh lebih mencerminkan semangat kemerdekaan?

Kemerdekaan Bukan Tiket untuk Mendapatkan Perlakuan Istimewa

Jabatan adalah amanah.

Bukan tiket untuk selalu berada di tempat paling nyaman.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar ekspektasi masyarakat terhadap sikapnya.

Masyarakat tentu tidak berharap semua pejabat harus berdiri di bawah matahari tanpa terkecuali.

Tetapi masyarakat boleh berharap bahwa pemimpin mereka memiliki rasa empati dan solidaritas.

Karena rakyat bukan sekadar penonton dalam upacara kemerdekaan.

Rakyat adalah bagian dari bangsa yang sedang diperingati kemerdekaannya.

Mungkin yang Perlu Diperbaiki Bukan Upacaranya, Tapi Cara Kita Memaknainya

Upacara 17 Agustus tetap penting.

Tradisi tersebut tidak perlu dihilangkan.

Justru harus dipertahankan dan dibuat semakin bermakna.

Namun, mungkin sudah waktunya kita memperbaiki cara kita melaksanakannya.

Jangan hanya memastikan seragam peserta rapi.

Jangan hanya memastikan barisan lurus.

Jangan hanya memastikan susunan acara berjalan sesuai protokol.

Pastikan juga peserta mendapatkan perlakuan yang manusiawi.

Pastikan anak-anak tidak kepanasan berlebihan.

Pastikan tersedia air minum.

Pastikan ada pertolongan medis.

Dan yang paling penting:

Pastikan nilai persatuan yang kita ucapkan benar-benar terlihat dalam tindakan.

Karena pada akhirnya, upacara 17 Agustus bukan kompetisi siapa yang mendapatkan kursi paling nyaman.

Bukan pula tentang siapa yang mendapatkan snack paling lengkap.

Ini tentang bagaimana sebuah bangsa mengingat perjuangan orang-orang yang telah mengorbankan hidupnya demi kemerdekaan.

Dan mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita renungkan:

Kalau kita benar-benar ingin mengajarkan persatuan, mengapa tidak mulai dengan merasakan sedikit saja apa yang dirasakan rakyat?

Sebab pemimpin yang hebat bukanlah pemimpin yang selalu berada di tempat paling nyaman.

Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang ketika rakyatnya berdiri, ia pun bersedia berdiri bersama mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About the Author

Hadir sebagai sumber inspirasi dan edukasi seputar ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Menyajikan konten ringan hingga mendalam tentang ibadah, akhlak, sejarah, serta fenomena kehidupan umat Muslim masa kini. Dengan pendekatan yang relevan dan mudah dipahami, website ini bertujuan menjadi ruang belajar, refleksi, dan penguatan iman bagi setiap pengunjung

Search the Archives

Akses terhadap liputan jurnalistik investigatif dan laporan-laporan terkini selama bertahun-tahun.