Tanyaislamyuk – Ada pertanyaan yang cukup menggelitik: kalau agama mengajarkan kejujuran, amanah, dan larangan mengambil hak orang lain, kenapa negara yang masyarakatnya religius masih bisa memiliki masalah korupsi yang serius?
Apakah berarti orang atheis lebih jujur?
Tentu tidak sesederhana itu.
Masalahnya mungkin bukan pada agamanya, tetapi pada sistemnya.
Seseorang bisa rajin beribadah, tetapi kalau sistem hukum lemah, pengawasan buruk, dan orang yang korup merasa tidak akan dihukum, korupsi tetap bisa terjadi.
Sebaliknya, seseorang yang tidak terlalu religius bisa saja hidup dalam sistem yang membuatnya berpikir berkali-kali untuk melakukan korupsi karena hukum benar-benar ditegakkan.
Jadi, agama mengajarkan manusia untuk tidak mencuri. Tetapi sistem yang kuat memastikan ketika seseorang tetap mencuri, dia harus mempertanggungjawabkannya.
Ironisnya, kadang kita lebih sibuk memperlihatkan kesalehan daripada memastikan uang rakyat benar-benar dikelola dengan amanah.
Memakai simbol agama, rajin menghadiri acara keagamaan, atau berbicara tentang moralitas tidak otomatis membuat seseorang bersih.
Yang menentukan adalah apa yang dilakukan ketika ada kesempatan untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Karena itu, pertanyaan sebenarnya bukan:
“Negara beragama atau atheis, mana yang lebih jujur?”
Tetapi:
“Negara mana yang memiliki sistem yang membuat orang sulit melakukan korupsi dan memastikan pelakunya benar-benar dihukum?”
Sebab negara yang bersih tidak cukup hanya membutuhkan masyarakat yang beriman.
Negara juga membutuhkan hukum yang tegas, pengawasan yang kuat, dan pejabat yang benar-benar takut mengambil hak rakyat.













