Tanyaislamyuk – Ada sebuah ironi yang sering terasa pahit dalam kehidupan beragama.
Ketika orang miskin mengeluh karena harga kebutuhan naik, pekerjaannya sulit, atau hidupnya penuh kekurangan, nasihat yang datang sering kali sederhana:
“Sabar.”
“Ikhlas.”
“Jangan terlalu mengejar dunia.”
Namun ketika berbicara kepada orang kaya, nasihat yang diberikan bisa berubah:
“Perbanyak sedekah.”
“Jangan lupa berbagi.”
“Harta itu titipan Allah.”
Nasihat tersebut tentu tidak salah. Sabar, ikhlas, dan sedekah memang merupakan nilai penting dalam agama.
Tetapi persoalannya muncul ketika nasihat agama seolah hanya diarahkan kepada mereka yang berada di posisi tertentu, sementara orang yang menyampaikannya justru memasang tarif yang tidak sedikit untuk datang memberikan ceramah.
Lalu muncul pertanyaan yang mungkin terasa menyakitkan:
Jika orang miskin diminta ikhlas menerima keadaan, mengapa orang yang mengajarkan keikhlasan tidak selalu mau mengajarkan tanpa bayaran?
Jika orang kaya diminta banyak bersedekah, apakah mereka yang menerima sedekah dari orang kaya juga tidak perlu bercermin tentang kesederhanaan?
Tentu, seorang ustaz, dai, atau penceramah juga manusia. Mereka memiliki kebutuhan hidup, keluarga, biaya perjalanan, waktu, dan tenaga. Memberikan honor kepada penceramah tidak otomatis berarti salah.
Yang patut direnungkan adalah ketika agama berubah menjadi transaksi semata, sementara nilai yang disampaikan justru tentang keikhlasan, kesederhanaan, dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Jangan sampai orang miskin terus diminta bersabar, orang kaya terus diminta bersedekah, tetapi semua pihak lupa bahwa orang yang berdiri di tengah-tengah mereka juga seharusnya menjadi teladan dari nasihat yang disampaikannya.
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang agama.
Mereka juga membutuhkan orang yang kehidupannya membuat nasihat itu terasa nyata.













