Tanyaislamyuk – Fenomena sound horeg kembali menjadi perbincangan. Di satu sisi, penggunaan sound system berdaya besar kerap dikritik karena dianggap mengganggu ketertiban, berlebihan, bahkan oleh sebagian pihak disebut seperti “diskotik berjalan” ketika musik diputar dengan volume sangat keras.
Namun pemandangan berbeda justru terlihat ketika sebuah sound horeg hadir di tengah masyarakat Pekalongan. Bukannya mendapat penolakan, kedatangannya malah disambut antusias oleh sejumlah santri.
Mereka terlihat berkumpul, mengangkat tangan, berjoget, dan menikmati kemeriahan suara yang menggema di tengah kerumunan.
Pemandangan ini kemudian memunculkan pertanyaan:
Apakah sound horeg memang selalu identik dengan hal negatif? Atau persoalannya sebenarnya bukan pada sound system-nya, melainkan bagaimana dan di mana penggunaannya?
Bagi sebagian orang, sound horeg adalah bagian dari hiburan dan ekspresi masyarakat. Tetapi bagi yang lain, suara yang terlalu keras dianggap mengganggu, terutama jika berlangsung di lingkungan padat penduduk atau pada waktu istirahat.
Yang membuat fenomena ini semakin menarik adalah ketika santri—yang selama ini identik dengan lingkungan religius—justru terlihat antusias menikmati kemeriahan sound horeg.
Ada yang menganggap hal tersebut sebagai bentuk hiburan yang wajar.
Ada pula yang mempertanyakan, “Bukankah santri seharusnya memberikan contoh kesederhanaan dan menjaga batas dalam hiburan?”
Pada akhirnya, perdebatan ini bukan hanya tentang sound horeg.
Ini tentang batas antara hiburan, kebebasan berekspresi, ketertiban, dan nilai-nilai yang diyakini masyarakat.
Karena mungkin masalah sebenarnya bukan sekadar:
“Sound horeg itu boleh atau tidak?”
Tetapi:
“Seberapa jauh sebuah hiburan boleh dinikmati tanpa mengganggu hak orang lain?”
Bagaimana menurut Anda? Wajar atau justru memprihatinkan ketika santri ikut antusias menikmati sound horeg?











