Tanyaislamyuk – Rajin beribadah seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bijaksana, dan mampu menjaga lisannya. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita menemukan orang yang terlihat taat beragama justru mudah menghakimi, marah, merendahkan orang lain, bahkan melontarkan kata-kata kasar kepada mereka yang dianggap berbeda atau kurang taat.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan moral superiority, yaitu perasaan bahwa diri sendiri lebih benar, lebih bermoral, atau lebih baik daripada orang lain. Ketika perasaan tersebut muncul, ibadah yang seharusnya menjadi jalan memperbaiki diri justru bisa dijadikan alasan untuk merasa berhak menghakimi sesama.
Padahal, dalam ajaran Islam, menjaga lisan, mengendalikan amarah, bersikap rendah hati, dan menasihati dengan cara yang baik juga merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Ketaatan bukan hanya tentang seberapa sering seseorang beribadah, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Tentu saja, tidak semua orang yang rajin beribadah memiliki perilaku demikian. Namun, fenomena ini menjadi pengingat bahwa kesalehan ritual semestinya berjalan beriringan dengan kesalehan akhlak.
Lantas, mengapa sebagian orang begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit menyadari kekurangan dirinya sendiri? Apakah kita sudah benar-benar memperbaiki diri melalui ibadah, atau justru tanpa sadar menggunakannya untuk merasa lebih tinggi daripada sesama?











