Tanyaislamyuk – Ancaman suhu panas ekstrem akibat fenomena Super El Niño menjadi perhatian serius bagi kesehatan masyarakat dunia. Berdasarkan proyeksi yang dikutip CNBC Indonesia, sekitar 19.251 kematian tambahan diperkirakan dapat terjadi di Indonesia akibat dampak panas ekstrem dalam periode September 2026 hingga Februari 2027.
Secara global, fenomena tersebut diperkirakan berpotensi menyebabkan sekitar 450.000 kematian tambahan. Indonesia bahkan masuk dalam daftar negara dengan proyeksi angka kematian tertinggi, menempati posisi kedua setelah Nigeria yang diperkirakan mencapai 31.320 kematian.
Angka tersebut merupakan hasil pemodelan mengenai potensi dampak kesehatan akibat suhu panas, bukan jumlah kematian yang telah tercatat. Karena itu, proyeksi ini perlu dipahami sebagai peringatan mengenai besarnya risiko yang mungkin dihadapi masyarakat.
Suhu udara yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga gangguan kesehatan serius. Kelompok lanjut usia, anak-anak, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu berpotensi menghadapi risiko lebih besar ketika terpapar panas ekstrem.
Di Indonesia, dampak El Niño juga berkaitan dengan kondisi cuaca yang lebih kering dan musim kemarau yang cenderung berlangsung lebih panjang. Situasi ini dapat meningkatkan kebutuhan air bersih, memperbesar risiko kekeringan, serta memicu kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari. Menjaga kecukupan cairan tubuh, mengurangi paparan sinar matahari langsung, dan beristirahat di tempat yang sejuk menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat panas.
Di tengah ancaman perubahan kondisi iklim tersebut, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah menjadi penting agar dampak suhu ekstrem dapat ditekan. Pemantauan informasi cuaca resmi serta perlindungan terhadap kelompok rentan juga perlu menjadi perhatian bersama.












