Tanyaislamyuk – Banyak orang mengira sejarah besar dalam Islam selalu dimulai oleh para nabi laki-laki, para raja, atau para panglima perang. Tapi tahukah kamu? Salah satu rangkaian ibadah paling suci dalam Islam yang setiap tahun dilakukan jutaan manusia dari seluruh dunia justru berasal dari perjuangan seorang perempuan.
Ya, seorang ibu.
Seorang wanita yang ditinggalkan di tengah padang pasir tandus bersama bayinya.
Tanpa pohon.
Tanpa makanan.
Tanpa air.
Perempuan itu adalah Siti Hajar.
Hari ini jutaan umat Islam berlari kecil dari bukit Shafa ke Marwah saat umrah dan haji. Banyak yang melakukannya hanya karena “itu memang tata caranya.” Padahal di balik itu ada kisah pilu, perjuangan, dan keteguhan hati seorang ibu yang luar biasa.
Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan bayi mereka, Nabi Ismail, di sebuah lembah tandus yang kini menjadi kota suci Makkah, Hajar sempat bertanya:
“Apakah ini perintah Allah?”
Dan ketika dijawab “iya”, ia tidak marah. Tidak memberontak. Tidak menyalahkan keadaan. Ia hanya berkata penuh keyakinan:
“Kalau begitu Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Kalimat itu mungkin pendek. Tapi dari situlah sejarah besar dimulai.
Saat persediaan air habis dan bayinya menangis kehausan, Hajar tidak diam pasrah menunggu mukjizat turun dari langit. Ia berlari. Bukan sekali. Tapi bolak-balik tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah demi mencari air.
Bayangkan itu.
Seorang ibu.
Sendirian.
Di tengah panas gurun.
Anaknya menangis kehausan.
Tidak ada bantuan manusia sama sekali.
Namun ia tetap bergerak.
Dan karena perjuangan itulah, Allah menghadirkan mukjizat air zamzam — air yang sampai hari ini masih diminum jutaan manusia dari seluruh dunia.
Yang lebih menggetarkan lagi, Allah tidak membiarkan perjuangan Hajar menjadi kisah yang hilang ditelan zaman. Justru langkah kaki seorang perempuan biasa itu diabadikan menjadi bagian resmi dari ibadah haji dan umrah.
Artinya…
Setiap muslim yang melakukan sa’i dari Shafa ke Marwah sebenarnya sedang mengulang jejak perjuangan seorang ibu.
Setiap langkah dalam ibadah itu adalah pengingat bahwa:
- ikhtiar harus terus dilakukan meski keadaan terasa mustahil,
- tawakal bukan berarti diam,
- dan perjuangan seorang perempuan di mata Allah bisa begitu mulia sampai dikenang miliaran manusia sepanjang sejarah.
Ironisnya, di dunia hari ini masih banyak orang yang meremehkan perempuan. Menganggap wanita hanya pelengkap. Padahal dalam salah satu ibadah terbesar Islam, laki-laki dan perempuan sama-sama diperintahkan mengikuti jejak langkah seorang wanita bernama Hajar.
Ini bukan sekadar cerita sejarah.
Ini adalah pesan besar bahwa Allah memuliakan keteguhan, kesabaran, dan perjuangan — siapa pun orangnya.
Maka lain kali saat melihat jamaah haji dan umrah berjalan dari Shafa ke Marwah, ingatlah:
Mereka bukan hanya sedang menjalankan ritual.
Mereka sedang menapaki jejak cinta, air mata, dan perjuangan seorang ibu yang percaya penuh kepada Allah.













