Tanyaislamyuk – Di tengah kondisi ekonomi yang makin terasa berat, harga kebutuhan pokok naik, dan nilai rupiah yang terus melemah terhadap dolar, sebuah pemandangan justru memancing perdebatan di tengah masyarakat. Sekelompok orang terlihat melempar-lempar nasi dan hasil bumi dalam sebuah tradisi yang disebut “sedekah bumi”.
Video maupun foto-foto acara semacam ini sering viral di media sosial. Ada yang menganggapnya sebagai budaya leluhur yang harus dijaga, namun tidak sedikit pula yang merasa miris melihat makanan diperebutkan, diinjak, bahkan terbuang sia-sia di saat banyak orang kesulitan membeli beras.
Pertanyaannya, apakah benar itu bentuk rasa syukur? Atau justru tradisi yang mulai kehilangan makna?
Tradisi sedekah bumi sendiri dikenal di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Biasanya dilakukan sebagai ungkapan terima kasih atas hasil panen atau keselamatan desa. Dalam praktiknya, masyarakat membawa hasil bumi, tumpeng, hingga makanan untuk didoakan bersama.
Namun seiring waktu, sebagian pelaksanaan tradisi ini berubah menjadi ajang rebutan makanan. Nasi dilempar ke kerumunan, hasil bumi diperebutkan secara brutal, bahkan ada yang sengaja diinjak-injak karena dianggap membawa berkah.
Di sinilah kritik mulai muncul.
Banyak masyarakat mempertanyakan logika di balik membuang atau melempar makanan ketika kondisi ekonomi sedang sulit. Di saat sebagian rakyat harus menghemat beras, ada pihak yang justru menjadikan makanan sebagai alat seremonial yang berakhir mubazir.
Sebagian tokoh agama juga mengingatkan bahwa rasa syukur tidak harus dilakukan dengan cara berlebihan atau menghamburkan nikmat. Dalam banyak ajaran agama, makanan adalah rezeki yang harus dihormati, bukan dipermainkan.
Di sisi lain, para pendukung tradisi sedekah bumi menilai masyarakat jangan terlalu cepat menghakimi. Mereka mengatakan inti dari sedekah bumi bukan membuang makanan, melainkan berbagi hasil panen kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong.
Masalahnya, ketika pelaksanaannya justru menimbulkan pemborosan dan lebih banyak mudarat daripada manfaat, publik tentu berhak mempertanyakan kembali esensi tradisi tersebut.
Budaya memang penting untuk dijaga. Tetapi budaya juga perlu dievaluasi agar tetap relevan dengan keadaan zaman. Jangan sampai atas nama tradisi, kita kehilangan rasa empati terhadap kondisi sosial yang sedang terjadi.
Karena rasa syukur sejatinya bukan tentang seberapa meriah sebuah ritual dilakukan, melainkan seberapa bijak manusia menghargai nikmat yang diberikan Tuhan.













