Tanyaislamyuk – Pernyataan pengamat politik Rocky Gerung kembali memancing perdebatan publik. Kali ini, ia menyoroti apa yang dianggapnya sebagai standar ganda dalam penegakan hukum terkait proyek pengadaan pemerintah.
Rocky menyinggung kasus pengadaan Chromebook di era mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim yang berujung proses hukum, sementara polemik pengadaan ribuan motor listrik untuk program MBG justru terkesan berjalan tanpa konsekuensi berarti.
Dalam berbagai pernyataannya, Rocky mempertanyakan logika hukum yang dipakai aparat penegak hukum. Menurutnya, jika pengadaan Chromebook dianggap bermasalah hingga menyeret pejabat ke meja hijau, maka publik juga berhak mempertanyakan pengadaan motor listrik dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang nilainya fantastis.
Kasus Chromebook sendiri menjadi sorotan setelah jaksa menilai terdapat penyalahgunaan kewenangan dalam pengadaan laptop pendidikan berbasis Chrome OS. Jaksa menuding adanya pemaksaan penggunaan sistem tertentu yang dianggap berkaitan dengan kepentingan bisnis tertentu.
Namun Rocky justru melihat persoalan itu dari sudut berbeda. Ia menilai seorang menteri membawa tim khusus atau memilih sistem tertentu belum tentu bisa langsung dianggap kriminal. Menurutnya, kebijakan teknis semestinya dibedakan dengan niat korupsi.
Di sisi lain, polemik pengadaan motor listrik MBG juga ramai diperbincangkan publik. Kepala Badan Gizi Nasional mengakui adanya pengadaan puluhan ribu motor listrik untuk operasional program MBG. Bahkan, Menteri Keuangan disebut pernah menolak usulan pengadaan tersebut karena dianggap bukan prioritas utama program pangan.
Data yang beredar menyebut realisasi pengadaan mencapai lebih dari 21 ribu unit motor listrik dari total 25 ribu unit yang direncanakan. Hal inilah yang membuat publik mulai membandingkan dua kasus tersebut: satu diproses serius secara hukum, sementara yang lain justru tampak berlalu begitu saja.
Di media sosial, pernyataan Rocky memicu reaksi keras. Sebagian netizen setuju bahwa hukum seharusnya berlaku adil tanpa tebang pilih. Namun sebagian lain menilai kedua kasus itu berbeda konteks sehingga tidak bisa disamakan begitu saja.
Kalimat satir “Kepala sehat?” yang dilontarkan Rocky akhirnya menjadi simbol kritik terhadap konsistensi penegakan hukum di Indonesia. Pertanyaannya kini bukan hanya soal Chromebook atau motor listrik MBG, tetapi apakah hukum benar-benar berdiri netral, atau justru mengikuti arah kepentingan politik dan kekuasaan.













