Tanyaislamyuk – Pertanyaan ini sering memicu emosi. Sebagian orang langsung menjawab, “Tidak mungkin diterima!” Sebagian lainnya mengatakan, “Jangan menghakimi, itu urusan Allah!”
Lalu, sebenarnya bagaimana Islam memandang persoalan ini?
Pertama, kita perlu membedakan antara sahnya sholat dan diterimanya sholat. Banyak orang mencampuradukkan keduanya seolah-olah merupakan hal yang sama, padahal tidak.
Sholat dikatakan sah apabila syarat dan rukunnya terpenuhi. Seseorang berwudhu dengan benar, menutup aurat, menghadap kiblat, dan melaksanakan seluruh rukun sholat sebagaimana mestinya. Dari sisi hukum fikih, sholatnya sah.
Namun, apakah sholat tersebut diterima oleh Allah? Di sinilah letak persoalannya. Tidak ada manusia yang mampu memastikan ibadah seseorang diterima atau ditolak. Bahkan para ulama yang terkenal dengan ketakwaannya pun tidak pernah berani mengklaim bahwa ibadah mereka pasti diterima.
Lalu bagaimana dengan seseorang yang dikenal sebagai “boti”, yaitu laki-laki yang berpenampilan atau berperilaku menyerupai perempuan?
Dalam pandangan mayoritas ulama, laki-laki yang sengaja menyerupai perempuan dalam hal yang dilarang syariat melakukan perbuatan yang tercela. Namun keberadaan dosa tidak otomatis membatalkan seluruh ibadah yang ia kerjakan.
Kalau logikanya setiap pendosa pasti ditolak sholatnya, maka tidak ada harapan bagi pezina, pencuri, peminum khamr, koruptor, pemfitnah, dan berbagai pelaku dosa lainnya. Padahal mereka semua tetap diwajibkan sholat.
Bayangkan jika seorang pencuri datang ke masjid untuk sholat. Apakah kita akan mengusirnya karena dosanya? Tentu tidak. Justru kita berharap sholatnya menjadi jalan menuju taubat.
Hal yang sama berlaku bagi siapa pun yang sedang bergulat dengan dosa. Islam tidak mengajarkan bahwa seseorang harus menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum mendekat kepada Allah. Justru banyak orang memperbaiki hidupnya karena mereka tetap menjaga hubungan dengan Allah melalui sholat.
Yang perlu dipahami, Islam memang mengajarkan agar seorang laki-laki menjaga fitrahnya sebagai laki-laki dan menjauhi perilaku yang menyerupai perempuan. Namun pada saat yang sama, Islam juga tidak pernah mengajarkan agar pelaku dosa berhenti beribadah.
Karena itu, ketika muncul pertanyaan, “Apakah sholatnya seorang boti diterima Allah?”, jawaban yang paling jujur adalah:
Tidak ada seorang pun yang bisa memastikan.
Yang bisa kita katakan hanyalah:
- Jika syarat dan rukunnya terpenuhi, sholatnya sah.
- Ia tetap wajib melaksanakan sholat.
- Ia tetap berkewajiban bertaubat dari setiap perbuatan yang dianggap dosa.
- Dan soal diterima atau tidaknya sholat, itu adalah hak Allah semata.
Ironisnya, terkadang orang lebih sibuk mempertanyakan diterima atau tidaknya sholat orang lain, sementara ia sendiri tidak pernah tahu bagaimana keadaan amalnya di hadapan Allah.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah sholat orang lain diterima. Pertanyaan terbesar adalah:
Jika hari ini Allah menghisab kita, apakah kita yakin sholat kita sendiri akan diterima?













