Tanyaislamyuk – ”Allah yang menjamin rezeki.”
Kalimat ini benar.
Tapi masalahnya, hari ini kalimat yang benar sering dipakai untuk membela kesimpulan yang salah.
Karena Allah menjamin rezeki, bukan berarti negara bebas dari tanggung jawab mengurus rakyat.
Karena Allah menjamin rezeki, bukan berarti rakyat harus diam ketika melihat kebijakan yang menyulitkan hidup mereka.
Karena Allah menjamin rezeki, bukan berarti penguasa tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang dipikulnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.”(HR Bukhari dan Muslim)
Perhatikan.
Islam tidak menyebut pemimpin sebagai influencer rakyat.
Bukan motivator rakyat.
Bukan sekadar pemberi pidato.
Tapi raa’in
Pengurus urusan rakyat.
Maka ketika harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja sulit, sumber daya alam dikuasai segelintir pihak, atau rakyat makin berat memenuhi kebutuhan hidupnya, Islam tidak mengajarkan kita menutup mata sambil berkata:
”Sudah, Allah yang menjamin rezeki.”
Sebab Umar bin Khattab tidak memahami hadis kepemimpinan seperti itu.
Beliau tidak duduk tenang sambil menyuruh rakyat bersabar.
Beliau memikul gandum di pundaknya sendiri ketika mengetahui ada rakyat yang kelaparan.
Karena beliau paham satu hal:
Kelak Allah akan bertanya tentang rakyat yang dipimpinnya.
Meyakini rezeki di tangan Allah adalah akidah.
Mengoreksi penguasa ketika lalai mengurus rakyat adalah amar makruf nahi mungkar.
Keduanya bukan lawan.
Justru berjalan beriringan dalam Islam.
Sebab agama ini tidak pernah mengajarkan umat menjadi penonton ketika kezaliman terjadi.
Dan tidak pernah mengajarkan penguasa bebas dari kritik ketika amanah diabaikan.
Tawakal bukan alasan untuk diam.
Dan kritik bukan tanda kurang iman.













