Tanyaislamyuk – Di tengah persoalan sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan dan biaya energi yang terus menjadi perhatian masyarakat, Desa Cepaka di Kabupaten Tabanan, Bali, justru mengambil langkah yang tidak biasa.
Desa yang dikenal dengan suasana pedesaannya yang asri ini mendapatkan bantuan mesin pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). Melalui teknologi pirolisis, sampah plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi energi alternatif berupa bensin dan solar.
Program tersebut merupakan bagian dari dukungan CSR yang diberikan kepada Desa Cepaka. Selain kendaraan layanan masyarakat, bantuan yang diberikan juga mencakup mesin pengolah sampah plastik menjadi BBM yang diharapkan dapat membantu mengurangi permasalahan sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi warga desa.
Menariknya, inisiatif ini muncul di saat Bali sendiri sedang gencar mencari solusi atas persoalan sampah plastik. Sejumlah pihak bahkan mulai mendorong pemanfaatan teknologi yang mampu mengubah sampah bernilai rendah menjadi bahan bakar yang dapat digunakan kembali.
Meski masih dalam tahap pengembangan dan implementasi, langkah Desa Cepaka ini langsung menarik perhatian publik. Banyak yang menilai bahwa jika teknologi semacam ini berhasil diterapkan secara berkelanjutan, sampah plastik yang selama ini menjadi beban lingkungan bisa berubah menjadi sumber energi yang memiliki nilai ekonomi.
Pertanyaannya sekarang, jika sebuah desa bisa mulai mengolah sampah plastik menjadi bensin dan solar, apakah daerah lain di Indonesia juga siap melakukan hal yang sama?













