Tanyaislamyuk – 8 September 2025. Sutrisno Hadi (43), buruh angkut di Pasar Gilingan, meninggal dunia setelah beberapa bulan berjuang melawan penyakit paru-paru. Ia meninggalkan seorang istri, Sulastri (39), dan anak laki-laki mereka, Rizky (14), yang masih duduk di kelas VIII SMP. Keluarga itu hidup pas-pasan.
Tabungan sudah habis untuk biaya berobat. Di hari pemakaman, Sulastri meminjam uang hampir 5 juta demi menggelar rangkaian tahlilan seperti yang selama ini berlaku di lingkungannya.
Ada yang menyarankan agar dibuat sederhana saja, tetapi ia hanya menjawab, “Saya takut nanti orang-orang ngomong.” Tiga bulan kemudian, utang itu mulai ditagih debt collector.
Sejak saat itu, sepulang sekolah Rizky ikut bantu jualan jajanan pasar keliling. Suatu sore, saat melihat ibunya menghitung uang hasil jualan yang masih belum cukup untuk membayar cicilan, Rizky berkata pelan, “Bu… Orang-orang dulu datang buat doain Ayah, kan? Kalau memang buat doain Ayah… Kenapa sekarang kita malah dikejar utang?” Sulastri tidak menjawab.
“Bu… Kalau nanti aku meninggal… doain aku aja ya… gak usah ngutang.” Ibunya masih diam… Ia hanya menunduk sambil menggenggam erat uang receh di tangannya.
Di Konowa, ada keluarga yang tidak takut menghadapi kem4tian. Mereka justru lebih takut menghadapi beban yang datang setelah kematian itu!












