Tanyaislamyuk – Di usia yang masih sangat muda, Veren sudah memikul beban hidup yang seharusnya belum menjadi tanggung jawabnya. Setiap hari sepulang sekolah, ia berkeliling menjajakan mi demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Di saat yang sama, ia juga merawat adiknya yang mengidap hidrosefalus dan hanya bisa terbaring lemah.
Kehidupan Veren berubah sejak kedua orang tuanya berpisah. Ibunya telah menikah lagi dan tidak lagi menjenguk mereka, sementara sang ayah pergi meninggalkan keluarga tanpa kabar. Kerinduan kepada ayah kerap membuat Veren tak mampu menahan tangis.
Kini, Veren dan adiknya tinggal bersama sang nenek yang menjadi satu-satunya tempat mereka bergantung. Meski kondisi ekonomi sangat terbatas, sang nenek tetap berusaha memasak mi untuk dijual, sementara Veren membantu menjaga adiknya dengan menyuapi makan dan minum sebelum berangkat berjualan.
Menurut penuturan Veren, setiap hari sepulang sekolah ia berkeliling menjual mi untuk membantu nenek sekaligus mengumpulkan uang, terutama untuk membeli susu bagi sang adik yang membutuhkan perawatan akibat hidrosefalus.
Rutinitas itu membuat Veren kehilangan masa kecilnya. Saat anak-anak lain bermain, ia justru harus berjalan kaki hingga sekitar lima kilometer menjajakan dagangan, bahkan sampai malam hari. Dalam sehari, hasil yang dibawa pulang rata-rata hanya sekitar Rp35 ribu, jumlah yang tetap ia syukuri meski belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.
Penghasilan tersebut masih jauh dari cukup. Kebutuhan pengobatan adiknya sering kali tertunda karena keterbatasan biaya. Bahkan, pernah suatu ketika sandal yang dipakainya putus saat berjualan. Karena tidak memiliki uang untuk membeli yang baru, Veren tetap melanjutkan perjalanan dengan memakai satu sandal, sementara kaki lainnya dibiarkan tanpa alas.













