Apakah Wajib Menaati Suami Yang Gajinya Dibawah UMR?

depositphotos 450572916 stock photo angry muslim man and woman

Tanyaislamyuk – Pertanyaan tentang rumah tangga kembali ramai diperbincangkan: apakah seorang istri tetap wajib menaati suami yang memiliki gaji di bawah UMR?

Pertanyaan ini muncul karena kondisi ekonomi setiap keluarga berbeda. Ada suami yang memiliki penghasilan besar, tetapi ada pula yang hanya mendapatkan penghasilan pas-pasan. Bahkan, tidak sedikit pasangan yang harus berjuang bersama karena penghasilan suami belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.

Lantas, apakah besar kecilnya gaji menentukan kewajiban seorang istri untuk menaati suaminya?

Ketaatan Tidak Ditentukan dari Besarnya Gaji

Dalam Islam, besar kecilnya penghasilan suami bukan ukuran utama apakah seorang istri wajib menaati suaminya atau tidak.

Al-Qur’an menjelaskan mengenai tanggung jawab laki-laki dalam rumah tangga, salah satunya karena mereka memiliki kewajiban memberikan nafkah. QS. An-Nisa ayat 34 mengaitkan tanggung jawab tersebut dengan apa yang mereka keluarkan dari harta mereka.

Artinya, seorang suami tidak otomatis kehilangan kedudukannya sebagai kepala keluarga hanya karena penghasilannya kecil.

Begitu pula sebaliknya, seorang suami tidak boleh merasa berhak memerintah sesuka hati hanya karena memiliki penghasilan yang besar.

Ketaatan dalam rumah tangga tetap memiliki batas, yaitu dalam perkara yang ma’ruf atau kebaikan yang tidak bertentangan dengan syariat.

MUI juga menegaskan bahwa ketaatan istri kepada suami bukanlah ketaatan buta, melainkan ketaatan dalam perkara yang ma’ruf.

Lalu Bagaimana Jika Gaji Suami di Bawah UMR?

Gaji di bawah UMR tidak serta-merta membuat seorang suami kehilangan hak dan tanggung jawabnya sebagai suami.

Yang perlu dilihat adalah kemampuan nyata dan usaha suami dalam memenuhi kewajibannya.

Dalam pembahasan fikih, nafkah berkaitan dengan kebutuhan yang wajar dan kemampuan. NU Online juga menjelaskan bahwa suami memiliki kewajiban menafkahi istri, tetapi istri tidak semestinya menuntut suami melebihi batas kewajibannya.

Dengan demikian, pasangan sebaiknya tidak menjadikan angka gaji sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan rumah tangga.

Suami yang memperoleh penghasilan sederhana tetapi bekerja keras, bertanggung jawab, dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya tetap memiliki tanggung jawab yang harus dihormati.

Sebaliknya, apabila seorang suami memiliki penghasilan besar tetapi sengaja mengabaikan kewajiban nafkah, persoalannya bukan lagi sekadar besar kecilnya gaji.

Bagaimana Jika Penghasilan Istri Lebih Besar?

Kondisi ini juga semakin banyak terjadi.

Seorang istri bisa saja memiliki penghasilan yang jauh lebih besar daripada suaminya. Namun, penghasilan istri pada dasarnya tidak otomatis menggugurkan kewajiban suami untuk memberikan nafkah.

NU Online menjelaskan bahwa kewajiban nafkah suami tetap ada meskipun istri memiliki penghasilan sendiri atau bahkan memperoleh penghasilan lebih besar.

Artinya, seorang istri yang memiliki penghasilan besar tidak otomatis menjadi pihak yang mengambil alih seluruh tanggung jawab ekonomi keluarga.

Namun, dalam kehidupan nyata, suami dan istri tentu dapat membuat kesepakatan untuk saling membantu sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing.

Bukan Berarti Suami Boleh Memerintah Sesuka Hati

Ini bagian yang sering terlewat ketika membahas persoalan ketaatan istri.

Status sebagai suami bukanlah “kartu bebas” untuk memerintah, merendahkan, mengontrol, atau menyakiti istri.

Kepemimpinan dalam keluarga justru membawa tanggung jawab yang besar.

MUI menjelaskan bahwa kepemimpinan suami berkaitan dengan tanggung jawab memberikan perlindungan, nafkah, serta menjaga martabat istri. Ketaatan istri pun ditempatkan dalam batas etika dan perkara yang ma’ruf.

Karena itu, jika seorang suami meminta sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama atau mengarah kepada kemaksiatan, tidak berarti istri harus menurut hanya karena perintah tersebut datang dari suaminya.

Suami Bergaji Kecil Tetap Bisa Menjadi Pemimpin Keluarga

Jangan sampai ukuran materi membuat seseorang keliru memahami kepemimpinan dalam rumah tangga.

Suami dengan gaji Rp2 juta, Rp3 juta, atau bahkan penghasilan yang tidak tetap bukan berarti otomatis menjadi suami yang gagal.

Begitu juga suami dengan penghasilan puluhan juta rupiah belum tentu menjadi suami yang baik jika ia tidak menjalankan tanggung jawabnya.

Nilai seorang suami tidak hanya ditentukan oleh nominal penghasilannya, tetapi juga oleh tanggung jawab, akhlak, usaha, dan cara memperlakukan keluarganya.

Dalam rumah tangga, pasangan seharusnya menjadi tim yang saling menguatkan, bukan dua pihak yang terus-menerus menghitung siapa yang menghasilkan uang lebih banyak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About the Author

Hadir sebagai sumber inspirasi dan edukasi seputar ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Menyajikan konten ringan hingga mendalam tentang ibadah, akhlak, sejarah, serta fenomena kehidupan umat Muslim masa kini. Dengan pendekatan yang relevan dan mudah dipahami, website ini bertujuan menjadi ruang belajar, refleksi, dan penguatan iman bagi setiap pengunjung

Search the Archives

Akses terhadap liputan jurnalistik investigatif dan laporan-laporan terkini selama bertahun-tahun.