Riset: Hampir 50% Pekerja Perempuan Indonesia Jadi Tulang Punggung Keluarga

img 20250501 wa0034 copy 2068x1162

Tanyaislamyuk – Selama ini, istilah “tulang punggung keluarga” lebih sering dilekatkan kepada laki-laki. Namun realitas ekonomi rumah tangga di Indonesia menunjukkan gambaran yang semakin beragam.

Semakin banyak perempuan yang bekerja, memiliki penghasilan sendiri, bahkan menjadi pihak yang paling menentukan keberlangsungan ekonomi keluarganya.

Tidak sedikit perempuan yang bekerja bukan sekadar untuk menambah pemasukan rumah tangga. Bagi mereka, penghasilan tersebut merupakan sumber utama untuk membayar kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, cicilan, hingga biaya tempat tinggal.

Lantas, benarkah hampir separuh pekerja perempuan Indonesia kini menjadi tulang punggung keluarga?

Perempuan dan Perubahan Peran Ekonomi

Perubahan kondisi ekonomi membuat pembagian peran dalam keluarga ikut bergeser.

Biaya hidup yang meningkat, kebutuhan pendidikan, harga rumah, serta berbagai kebutuhan rumah tangga membuat satu sumber penghasilan terkadang tidak lagi mencukupi.

Akibatnya, perempuan semakin banyak memasuki dunia kerja.

Ada yang bekerja sebagai karyawan, pedagang, pekerja informal, pelaku usaha kecil, pekerja profesional, hingga menjalankan pekerjaan berbasis digital dari rumah.

Namun bekerja tidak selalu berarti menjadi tulang punggung keluarga.

Seorang perempuan dapat bekerja sekaligus tetap berbagi tanggung jawab ekonomi dengan pasangannya.

Karena itu, istilah “tulang punggung” sebaiknya tidak digunakan hanya berdasarkan status bekerja atau tidak bekerja, melainkan berdasarkan seberapa besar kontribusi seseorang terhadap kebutuhan ekonomi keluarga.

Ketika Perempuan Menjadi Sumber Penghasilan Utama

Ada kondisi yang berbeda ketika pendapatan perempuan menjadi sumber penghasilan utama.

Misalnya, ketika suami tidak memiliki pekerjaan tetap, penghasilannya lebih rendah, sedang mengalami kesulitan ekonomi, atau ketika perempuan merupakan orang tua tunggal.

Dalam situasi seperti itu, perempuan bukan lagi sekadar “membantu suami”.

Ia menjadi pihak yang memastikan kebutuhan keluarga tetap berjalan.

Bangun pagi, bekerja, pulang dengan tubuh lelah, kemudian masih harus mengurus rumah dan anak.

Beban tersebut sering kali tidak terlihat dalam angka pendapatan.

Angka Statistik Harus Dibaca dengan Hati-Hati

Klaim bahwa “hampir 50 persen pekerja perempuan Indonesia menjadi tulang punggung keluarga” perlu dilihat berdasarkan sumber riset, definisi yang digunakan, tahun penelitian, serta karakteristik responden.

Istilah breadwinner atau pencari nafkah utama juga bisa memiliki definisi berbeda antara satu penelitian dan penelitian lainnya.

Ada penelitian yang mengukur berdasarkan siapa yang memiliki pendapatan terbesar dalam rumah tangga. Ada pula yang memasukkan perempuan yang berkontribusi besar terhadap pengeluaran keluarga.

Karena itu, sebuah angka persentase tidak seharusnya dilepaskan dari metodologi penelitian yang menghasilkan angka tersebut.

Fenomena yang Tidak Bisa Diabaikan

Terlepas dari perbedaan definisi dan angka, satu hal sulit dibantah: perempuan memiliki peran ekonomi yang semakin besar dalam keluarga Indonesia.

Perempuan bukan hanya berada di rumah.

Mereka bekerja di kantor, pasar, sekolah, rumah sakit, pabrik, toko, restoran, sektor pertanian, hingga menjalankan bisnis dari rumah.

Bahkan perkembangan teknologi membuat semakin banyak perempuan memperoleh penghasilan melalui perdagangan online, media sosial, dan berbagai pekerjaan digital.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa konsep keluarga dengan satu pencari nafkah semakin tidak menggambarkan seluruh realitas rumah tangga Indonesia.

Namun Ada Beban yang Sering Tidak Dihitung

Ada satu persoalan yang menarik.

Ketika perempuan bekerja, pendapatannya dapat dihitung.

Tetapi ketika ia mengurus anak, memasak, membersihkan rumah, mendampingi anak belajar, merawat anggota keluarga, dan melakukan berbagai pekerjaan domestik lainnya, kontribusi tersebut sering kali tidak dihitung sebagai “pekerjaan”.

Padahal semuanya membutuhkan waktu dan tenaga.

Inilah yang kemudian melahirkan istilah “beban ganda”—ketika seseorang harus menjalankan tanggung jawab ekonomi sekaligus pekerjaan domestik.

Jika perempuan sudah menjadi pencari nafkah utama tetapi tetap dibebani seluruh pekerjaan rumah tangga, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang menghasilkan uang.

Persoalannya adalah bagaimana tanggung jawab keluarga dibagi secara adil.

Apakah Laki-Laki Kehilangan Perannya?

Tentu tidak.

Ketika perempuan memiliki penghasilan atau bahkan menjadi pencari nafkah utama, hal tersebut tidak otomatis berarti laki-laki kehilangan harga diri atau perannya dalam keluarga.

Keluarga pada dasarnya adalah kerja sama.

Dalam satu keluarga, pendapatan dapat berasal dari suami, istri, atau keduanya. Yang terpenting adalah bagaimana kebutuhan keluarga dipenuhi dan bagaimana tanggung jawab dijalankan.

Bahkan dalam banyak rumah tangga, kondisi ekonomi dapat berubah.

Hari ini suami mungkin menjadi pencari nafkah utama. Beberapa tahun kemudian, kondisi bisa berbalik karena pekerjaan, kesehatan, bisnis, atau berbagai keadaan lainnya.

Jangan Meremehkan Perempuan yang Bekerja

Di balik seorang perempuan yang berangkat bekerja setiap pagi, mungkin ada anak yang harus dibiayai sekolah.

Di balik seorang pedagang perempuan yang berjualan sampai malam, mungkin ada keluarga yang bergantung pada penghasilannya.

Dan di balik seorang ibu yang bekerja dari rumah, mungkin ada perjuangan yang tidak pernah terlihat oleh orang lain.

Karena itu, menjadi perempuan pekerja bukan sekadar persoalan memiliki pekerjaan.

Bagi sebagian perempuan, bekerja adalah bentuk tanggung jawab terhadap keluarganya.

Maka ketika data menunjukkan semakin besarnya kontribusi perempuan dalam ekonomi rumah tangga, masyarakat seharusnya tidak melihatnya sebagai ancaman terhadap peran laki-laki.

Sebaliknya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa keluarga Indonesia sedang mengalami perubahan.

Dan mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi:

“Siapa yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga?”

Melainkan:

“Bagaimana suami dan istri dapat saling menopang agar keluarga tetap bertahan di tengah biaya hidup yang semakin tinggi?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About the Author

Hadir sebagai sumber inspirasi dan edukasi seputar ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Menyajikan konten ringan hingga mendalam tentang ibadah, akhlak, sejarah, serta fenomena kehidupan umat Muslim masa kini. Dengan pendekatan yang relevan dan mudah dipahami, website ini bertujuan menjadi ruang belajar, refleksi, dan penguatan iman bagi setiap pengunjung

Search the Archives

Akses terhadap liputan jurnalistik investigatif dan laporan-laporan terkini selama bertahun-tahun.