Tanyaislamyuk – Istri Firaun dijanjikan surga meski bersuamikan manusia paling zalim, sementara istri Nabi Nuh justru berakhir dalam kebinasaan meski menjadi pendamping seorang nabi. Lantas, masih pantaskah kita mengatakan bahwa nasib seorang istri sepenuhnya bergantung pada suaminya?
Kisah ini seharusnya mengguncang cara pandang kita. Sebab, di hadapan Allah, seorang perempuan tidak otomatis mulia hanya karena bersuamikan orang saleh, sebagaimana ia tidak otomatis hina karena hidup bersama laki-laki yang zalim. Setiap jiwa memiliki tanggung jawab atas iman, pilihan, dan amalnya sendiri.
Namun, mengapa hingga hari ini masih ada yang menjadikan kalimat “istri itu tergantung suaminya” seolah-olah kebenaran mutlak? Bukankah kisah istri Firaun dan istri Nabi Nuh telah menunjukkan bahwa hubungan pernikahan tidak menjamin keselamatan akhirat?
Lalu, apakah seorang istri harus selalu disalahkan atas dosa suaminya, atau seorang suami bisa begitu saja merasa aman karena memiliki istri yang salehah? Inilah pelajaran besar tentang keadilan Allah: setiap manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri di hadapan-Nya.











