Tanyaislamyuk – Rakyat Indonesia adalah salah satu suara paling lantang di dunia dalam mengecam genosida dan menuntut kemerdekaan Palestina. Di jalanan, di media sosial, solidaritas itu nyata.
Namun, di balik panggung retorika moral tersebut, mesin ekonomi ekstraktif kita berjalan tanpa beban nurani.
Laporan terbaru membongkar fakta memilukan: lahan-lahan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla)—yang menghancurkan ekosistem lokal dan meracuni udara rakyat sendiri—dengan mudah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit. Lebih parahnya lagi, produk sawit Indonesia tetap rajin diekspor ke Israel dengan nilai mencapai jutaan dolar AS.
Ada ironi besar ketika kita menuntut keadilan bagi rakyat Palestina di satu sisi, tetapi di sisi lain rantai pasok domestik kita masih memberi pasokan komoditas bagi negara penindas.
Bagaimana menurut kalian? Apakah solidaritas kita sudah cukup tuntas jika ekonomi ekstraktif dan mafia karhutla di negeri sendiri masih dibiarkan melenggang?
Tulis analisis dan pendapat kalian di kolom komentar. Jangan lupa share agar makin banyak yang sadar!













