Tanyaislamyuk – Di media sosial, kita sering menemukan narasi yang menyudutkan perempuan yang bercerai. Salah satu kalimat yang belakangan ramai dibahas adalah: “Banyak janda yang mengaku jadi korban dalam rumah tangga, tapi pas ngurus surat cerai malah dianterin selingkuhannya yang nunggu di parkiran.”
Kalimat seperti ini terdengar “menampar”, seolah membuka fakta tersembunyi di balik perceraian. Tapi pertanyaannya, benarkah itu fakta umum? Atau hanya potongan cerita yang kemudian digeneralisasi untuk menghakimi semua perempuan yang berstatus janda?
Perceraian Itu Rumit, Tidak Sesederhana “Korban atau Pelaku”
Dalam banyak kasus, perceraian bukanlah cerita hitam-putih. Ada rumah tangga yang retak karena kekerasan, ekonomi, perselingkuhan, kecanduan, ego, campur tangan keluarga, hingga komunikasi yang hancur bertahun-tahun.
Namun di internet, semuanya sering dipermudah menjadi dua kubu:
- pihak yang merasa paling tersakiti,
- dan pihak yang dianggap paling bersalah.
Masalahnya, publik sering hanya melihat permukaan. Ketika ada perempuan yang datang ke pengadilan ditemani laki-laki lain, orang langsung berasumsi: “Oh ternyata dia sudah punya selingkuhan.”
Padahal belum tentu. Bisa jadi itu:
- saudara,
- teman kerja,
- kuasa hukum,
- teman dekat,
- atau memang orang yang baru hadir setelah rumah tangganya lama retak.
Tetapi asumsi selalu lebih cepat daripada fakta.
Kenapa Narasi Ini Cepat Viral?
Karena masyarakat kita masih punya standar ganda soal perceraian.
Laki-laki yang bercerai lalu dekat dengan perempuan lain sering dianggap “wajar” atau “cepat move on”. Tapi ketika perempuan terlihat bersama laki-laki lain setelah proses cerai berjalan, langsung muncul cap:
- tidak setia,
- penyebab rumah tangga hancur,
- pura-pura jadi korban.
Padahal hubungan yang rusak tidak selalu dimulai dari hadirnya orang ketiga. Kadang orang ketiga muncul justru setelah hubungan itu mati secara emosional bertahun-tahun.
Tidak Semua yang Mengaku Korban Berbohong
Tentu, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa ada orang yang memainkan narasi korban demi simpati. Itu bisa dilakukan siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.
Ada yang menyembunyikan kesalahannya sendiri, lalu membangun citra seolah dirinya paling tersakiti. Fenomena seperti ini nyata terjadi dalam banyak konflik rumah tangga.
Tetapi menjadikan beberapa kasus sebagai “bukti” bahwa banyak janda sebenarnya berselingkuh juga bukan sikap yang adil.
Sama seperti tidak adil jika semua duda dicap tukang selingkuh hanya karena ada beberapa pria yang meninggalkan istrinya demi perempuan lain.
Parkiran Pengadilan Tidak Pernah Bisa Menjelaskan Seluruh Cerita
Orang-orang sering merasa paling tahu hanya karena melihat satu adegan:
- ada laki-laki menunggu di parkiran,
- ada perempuan turun dari mobil,
- lalu muncul kesimpulan besar tentang moral seseorang.
Padahal kehidupan rumah tangga tidak sesederhana itu. Yang tahu isi pernikahan sebenarnya hanyalah dua orang yang menjalaninya.
Bahkan dalam banyak kasus, pasangan sudah lama berpisah ranjang, tidak saling peduli, dan hubungan mereka sebenarnya hanya tinggal status di atas kertas.
Yang Berbahaya Adalah Kebiasaan Menggeneralisasi
Kalimat seperti:
- “Semua janda begitu,”
- “Perempuan kalau minta cerai pasti sudah ada cadangan,”
- atau “Laki-laki pasti salah kalau rumah tangga hancur,”
adalah bentuk generalisasi yang lahir dari emosi dan pengalaman pribadi, bukan fakta utuh.
Media sosial memang suka narasi yang tajam dan provokatif. Semakin menyulut emosi, semakin ramai komentar. Tapi keramaian komentar tidak otomatis membuat sebuah tuduhan menjadi benar.













