Tanyaislamyuk – Sebuah seruan terbuka yang ditujukan kepada para tokoh adat Dayak menjadi sorotan publik. Tiga figur adat, yakni Panglima Pajaji, Panglima Jilah (TBBR), dan Panglima Petrus (Sabang Merah), mendapat kritik dalam narasi yang beredar karena dinilai belum menunjukkan sikap tegas di tengah persoalan kebakaran hutan, pencemaran udara, dan ancaman terhadap tanah adat di Kalimantan.
Narasi tersebut mempertanyakan mengapa ketegasan dalam menyuarakan isu identitas belum terlihat sebanding dengan perjuangan menghadapi kerusakan lingkungan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Para tokoh adat pun didesak untuk mengambil langkah nyata dalam melindungi hutan, tanah adat, dan kesejahteraan masyarakat Dayak, bukan sekadar membawa nama besar suku.
Namun, kritik tersebut merupakan pandangan dalam seruan yang beredar dan penilaian terhadap sikap para tokoh yang disebutkan, bukan kesimpulan independen mengenai tindakan mereka.
Bagaimana menurut kalian? Apakah para pemimpin adat harus lebih vokal dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan dan hak masyarakat adat?











