Tanyaislamyuk – Di sebagian desa, pesta pernikahan bukan lagi sekadar perayaan untuk dua orang yang sedang memulai kehidupan baru.
Ada kalanya, justru orangtua yang menjadi pusat perhatian.
Mulai dari memilih gedung, menentukan jumlah undangan, menyewa hiburan, memesan ratusan porsi makanan, hingga memikirkan bagaimana agar hajatan terlihat lebih meriah dibanding tetangga.
Ironisnya, pasangan yang menikah terkadang justru tidak punya banyak ruang untuk menentukan seperti apa pernikahan yang mereka inginkan.
Ada yang sebenarnya ingin menikah sederhana.
Ada yang ingin menghemat uang untuk membeli rumah.
Ada pula yang lebih memilih menggunakan biaya pesta sebagai modal usaha atau bekal kehidupan setelah menikah.
Namun keinginan tersebut bisa kalah dengan kalimat:
“Masa anak sendiri menikah cuma dibuat sederhana?”
Bagi sebagian orangtua, hajatan besar mungkin merupakan bentuk kebanggaan setelah bertahun-tahun membesarkan anak.
Tetapi dari sudut pandang lain, pesta yang terlalu besar juga bisa dianggap sebagai ajang menunjukkan status sosial, menjaga gengsi keluarga, atau membuktikan bahwa mereka mampu mengadakan hajatan yang ramai.
Padahal, setelah musik berhenti, tamu pulang, dan tenda dibongkar, yang menjalani kehidupan rumah tangga tetaplah kedua mempelai.
Mereka yang harus membayar cicilan.
Mereka yang harus membangun rumah tangga.
Mereka yang akan menghadapi kebutuhan sehari-hari.
Jadi, sebenarnya pesta pernikahan itu untuk siapa?
Untuk kebahagiaan kedua mempelai, atau untuk memenuhi ekspektasi keluarga dan lingkungan?
Tentu tidak semua hajatan di desa seperti itu. Banyak orangtua yang memang ingin memberikan perayaan terbaik untuk anaknya tanpa bermaksud pamer.
Namun pertanyaannya tetap menarik untuk direnungkan:
Apakah pernikahan anak seharusnya menjadi panggung kebanggaan orangtua, atau keputusan tentang pesta seharusnya lebih banyak berada di tangan kedua mempelai?













