Tanyaislamyuk – Islam datang bukan untuk menjadikan perempuan sebagai manusia kelas dua. Sebaliknya, banyak ajaran Islam justru menempatkan perempuan pada posisi yang terhormat: sebagai ibu yang dimuliakan, sebagai istri yang memiliki hak, sebagai anak yang wajib dijaga, serta sebagai manusia yang memiliki kehormatan dan tanggung jawab di hadapan Allah.
Namun, ada sebuah ironi yang semakin sering menjadi bahan perdebatan: ketika Islam berusaha menjaga kehormatan perempuan, justru sebagian perempuan memilih melakukan hal-hal yang menurut sebagian orang merendahkan kehormatan dirinya sendiri.
Di sinilah perdebatan menjadi panas.
Ketika kebebasan dianggap harus selalu berarti membuka semuanya
Di tengah budaya modern, perempuan sering didorong untuk menganggap bahwa kebebasan berarti bebas mengenakan apa pun, bebas menampilkan tubuh di ruang publik, dan bebas mencari pengakuan melalui penampilan.
Tentu, seorang perempuan memiliki hak untuk menentukan pilihan hidupnya. Tetapi dalam perspektif Islam, kebebasan tidak pernah berdiri sendirian. Ada batas moral, tanggung jawab, dan konsep tentang kehormatan diri.
Islam tidak mengatakan perempuan tidak boleh tampil cantik. Islam justru mengajarkan agar kecantikan tidak menjadi satu-satunya nilai yang menentukan harga dirinya.
Persoalannya kemudian adalah: mengapa seseorang harus mendapatkan pengakuan dari orang lain dengan menjadikan tubuhnya sebagai tontonan?
Pertanyaan inilah yang membuat isu tersebut kontroversial.
Tubuh bukan barang dagangan untuk mendapatkan validasi
Media sosial telah mengubah cara manusia mencari pengakuan.
Jumlah likes, komentar, jumlah pengikut, hingga perhatian dari lawan jenis terkadang menjadi ukuran seberapa berharga seseorang merasa dirinya.
Tidak sedikit orang akhirnya berlomba-lomba menampilkan sisi paling menarik dari dirinya. Masalahnya, ketika perhatian semakin sulit didapat, sebagian orang merasa perlu tampil semakin ekstrem.
Di titik ini muncul kritik:
Jika seseorang merasa harus mempertontonkan tubuhnya agar dianggap menarik, apakah itu benar-benar bentuk pemberdayaan atau justru bentuk lain dari eksploitasi diri?
Jawabannya tentu tidak sesederhana hitam dan putih.
Tidak semua perempuan yang berpakaian terbuka berarti tidak menghargai dirinya. Tidak semua perempuan yang menjaga aurat otomatis memiliki akhlak yang baik. Nilai seseorang tidak bisa ditentukan hanya dari pakaian.
Namun, dalam ajaran Islam, pakaian dan penjagaan aurat memang merupakan bagian dari konsep kehormatan dan ketaatan.
Islam tidak memuliakan perempuan karena tubuhnya
Salah satu gagasan penting dalam Islam adalah bahwa manusia tidak dinilai berdasarkan kecantikan, bentuk tubuh, kekayaan, atau status sosialnya, melainkan berdasarkan ketakwaannya.
Dengan demikian, perempuan tidak perlu menjadikan tubuh sebagai alat utama untuk memperoleh penghargaan.
Ia memiliki nilai karena dirinya sebagai manusia.
Ia memiliki kehormatan sebagai seorang muslimah.
Ia memiliki kedudukan sebagai anak, ibu, istri, saudara, dan anggota masyarakat.
Inilah yang sering dilupakan dalam perdebatan tentang emansipasi dan kebebasan perempuan.
Pemberdayaan seharusnya tidak berarti memaksa perempuan untuk mengikuti standar tertentu—baik standar konservatif maupun standar modern.
Tetapi jangan pula menjadikan agama untuk menghakimi perempuan
Di sisi lain, kritik terhadap perilaku perempuan juga tidak boleh berubah menjadi kebiasaan mempermalukan, menghina, atau merendahkan mereka.
Ironis jika seseorang berbicara tentang kehormatan perempuan dengan cara yang justru menghancurkan kehormatan perempuan lain.
Islam mengajarkan nasihat, bukan penghinaan.
Menutup aurat adalah kewajiban bagi seorang muslimah, tetapi menghakimi isi hati orang lain bukanlah kewenangan manusia.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar “perempuan harus berpakaian seperti apa?”
Persoalan yang lebih besar adalah:
Apakah perempuan benar-benar sedang memilih karena kesadaran dirinya sendiri, atau sedang mengejar validasi dari masyarakat yang terus-menerus mengatakan bahwa dirinya baru berharga ketika terlihat menarik?
Kebebasan tanpa arah juga bisa menjadi jebakan
Ironisnya, masyarakat modern sering mengatakan kepada perempuan: “Jadilah dirimu sendiri.”
Tetapi pada saat yang sama, industri kecantikan, media sosial, budaya popular, dan algoritma justru terus menentukan seperti apa perempuan “ideal” harus terlihat.
Harus langsing.
Harus cantik.
Harus awet muda.
Harus seksi.
Harus menarik.
Harus mendapatkan perhatian.
Lalu semua itu disebut sebagai kebebasan.
Maka tidak mengherankan jika muncul kritik bahwa sebagian perempuan sebenarnya bukan sedang membebaskan dirinya, melainkan sedang mengganti satu bentuk tekanan dengan bentuk tekanan lainnya.
Islam menawarkan perspektif yang berbeda: kehormatan manusia tidak seharusnya bergantung pada seberapa banyak orang lain menginginkan tubuhnya.
Pada akhirnya, kehormatan adalah pilihan sekaligus tanggung jawab
Mengatakan bahwa Islam memuliakan perempuan bukan berarti semua perempuan muslimah otomatis memiliki perilaku yang sempurna.
Sebaliknya, mengatakan bahwa ada perempuan yang berpakaian atau berperilaku tidak sesuai dengan ajaran Islam juga tidak berarti kita berhak menghina mereka.
Yang perlu dikritik adalah perilakunya, bukan merendahkan manusia yang melakukannya.
Sebab pada akhirnya, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehormatan dirinya.
Islam datang membawa aturan untuk menjaga manusia. Tantangannya adalah apakah manusia melihat aturan tersebut sebagai bentuk perlindungan, atau justru sebagai sesuatu yang ingin mereka lepaskan demi mendapatkan pengakuan dunia.
Dan mungkin pertanyaan paling kontroversialnya adalah:
Jika kehormatan seseorang harus dibuktikan dengan seberapa banyak tubuhnya bisa dilihat dan dikagumi orang lain, apakah itu benar-benar kebebasan—atau justru bentuk baru dari perbudakan terhadap penilaian manusia?










