Tanyaislamyuk – Kalau Tuhan sudah mengetahui segala sesuatu sejak awal, termasuk siapa yang akan taat dan siapa yang akan durhaka, muncul satu pertanyaan yang terdengar sederhana tetapi cukup sulit dijawab:
Kenapa manusia tetap diciptakan?
Bukankah Tuhan sudah tahu bahwa sebagian manusia akan berbohong, berbuat zalim, meninggalkan ibadah, bahkan menentang-Nya?
Kalau akhirnya ada manusia yang tersesat dan mendapat hukuman, mengapa tidak sejak awal mereka tidak diciptakan?
Pertanyaan ini sering dianggap sebagai pertanyaan yang berbahaya. Padahal, justru pertanyaan seperti ini bisa menjadi pintu untuk memahami hubungan antara pengetahuan Tuhan, kehendak manusia, dan ujian kehidupan.
Dalam perspektif Islam, mengetahui sesuatu bukan berarti memaksa seseorang melakukan sesuatu.
Seperti seorang guru yang sudah mengenal muridnya dan bisa memperkirakan siapa yang rajin dan siapa yang malas. Pengetahuan sang guru tidak otomatis membuat murid menjadi malas atau rajin.
Begitu pula, Allah mengetahui pilihan manusia, tetapi manusia tetap menjalani kehidupan dengan pilihan dan tanggung jawabnya sendiri.
Manusia tidak diciptakan karena Tuhan membutuhkan manusia.
Tuhan tidak membutuhkan ibadah kita. Manusialah yang membutuhkan Tuhan.
Kehidupan kemudian menjadi ruang untuk memilih: mau mendekat atau menjauh, berbuat baik atau zalim, bertobat atau terus mempertahankan kesalahan.
Dan mungkin justru di situlah letak persoalan yang sering terlupakan.
Kalau manusia tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih, apakah ketaatan masih bisa disebut ketaatan?
Sebuah robot tidak pernah durhaka kepada penciptanya, tetapi robot juga tidak pernah benar-benar memilih untuk taat.
Manusia diberi akal, keinginan, kesempatan, petunjuk, sekaligus kebebasan untuk menentukan langkahnya.
Karena itu, pertanyaannya mungkin bukan lagi:
“Kenapa Tuhan menciptakan manusia kalau Dia sudah tahu manusia akan durhaka?”
Tetapi:
“Kalau kita sudah diberi kesempatan hidup, tahu bahwa Tuhan mengetahui semua pilihan kita, lalu pilihan apa yang akan kita ambil?”
Sebab kita tidak pernah tahu apa yang tertulis tentang akhir hidup kita.
Yang kita punya hanyalah kesempatan untuk menentukan apa yang kita lakukan hari ini.











