Tanyaislamyuk – Slow living di Jawa Tengah cuma jadi romantisisasi orang-orang luar, seperti Jakarta. Sementara bagi warga asli, narasi ini lebih terdengar sebagai omong kosong. Bagaimana bisa seseorang hidup “slow” dengan upah pas-pasan tapi pengeluaran besar?
Bagi mereka, slow living di Jawa Tengah hanyalah mitos. Yang nyata adalah gaji kecil, harga kebutuhan pokok yang tak beda jauh dengan kota besar, serta biaya sosial yang menckk leher.
Bayu (28), seorang desainer grafis yang bekerja di sebuah agensi lokal di Magelang, tertawa getir saat mendengar kalimat itu. Bayu adalah representasi anak muda Jawa Tengah yang sudah muak dengan romantisisasi kemiskinan di daerahnya.
“Orang luar lihatnya kita santai, padahal kita ngap-ngapan. Gaji UMR di sini itu cuma cukup buat bertahan hidup, bukan menikmati hidup, apalagi slow living slow living-an,” ujar Bayu, Selasa (10/2/2026)
Ratna (30), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Salatiga, misalnya, merasakan betul beratnya beban ini. Ia menyebut budaya “sumbang-menyumbang” atau sebagai pengeluaran tak terduga yang paling menguras emosi dan ekonomi.
“Di sini, kalau ada orang hajatan nikah, sunatan, atau bahkan orang meninggal, kita wajib datang dan ‘ngamplop’. Dulu mungkin 20 ribu pantas, sekarang standar kepatutan itu minimal 50 ribu. Kalau teman dekat atau saudara, ya harus 100 ribu atau lebih,” cerita Ratna.
Masalahnya, hajatan di desa tidak mengenal musim libur. Saat bulan-bulan baik dalam penanggalan Jawa, seperti bulan Besar atau Rejeb, undangan bisa datang bertubi-tubi.
“Pernah dalam seminggu ada empat undangan. Itu saja sudah keluar 200 ribu. Belum lagi iuran ini-itu. Ada iuran kematian, iuran 17-an, iuran perbaikan jalan, jimpitan ronda. Gaji suami yang pas-pasan itu kadang habis cuma buat ‘nyumbang’ biar nggak diomongin tetangga,” keluhnya.












