Tanyaislamyuk – Baru berjalan 14 bulan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru dihantam badai krisis kepercayaan publik. Hasil riset terbaru dari Policy Research Center (Porec) mengungkap fakta bahwa mayoritas warga melihat program ini lebih banyak dinikmati oleh elit politik dan pengelola dapur ketimbang anak-anak yang menjadi sasaran utama.
Dari ribuan responden yang disurvei, hanya 6,5% yang merasa manfaat nyata program ini benar-benar sampai ke tangan siswa, sementara sisanya menilai aliran dana lebih kencang menguap di lingkaran pejabat dan mitra pelaksana.
Keresahan masyarakat makin diperparah dengan temuan lapangan terkait penurunan kualitas makanan. Sebanyak 76% responden merasa porsi yang diterima anak-anak di sekolah tidak mencerminkan standar anggaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi.
Muncul dugaan kuat adanya praktik sunat anggaran secara sistematis demi mengambil selisih keuntungan, yang membuat kualitas gizi dikorbankan. Alih-alih memperbaiki nutrisi generasi bangsa, program ini justru dipandang sebagai “proyek empuk” yang rawan dikorupsi dan dimanipulasi oleh oknum tak bertanggung jawab.
Melihat karut-marut tata kelola ini, tak heran jika 80% responden dalam survei Porec menyatakan tidak setuju jika program ini dilanjutkan tanpa evaluasi total.
Ketimpangan antara anggaran yang digelontorkan negara dengan kenyataan di atas piring siswa menjadi alarm keras bagi pemerintah. Jika transparansi dan akuntabilitas tidak segera dibenahi, Program MBG dikhawatirkan hanya akan meninggalkan jejak pemborosan anggaran tanpa memberikan dampak signifikan bagi kesehatan anak-anak Indonesia.












