Tanyaislamyuk – Sebuah curahan hati seorang wanita di media sosial memicu perbincangan mengenai tradisi tahlilan yang masih banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Dalam unggahannya, ia mengaku tidak menyukai pelaksanaan tahlilan, bukan karena doa yang dipanjatkan, melainkan karena beban yang dirasakan oleh keluarga yang sedang berduka.
Menurut pengakuannya, saat salah satu anggota keluarganya meninggal dunia, dirinya bersama sang ibu justru sibuk menyiapkan kopi, teh, makanan ringan, hingga melayani tamu yang datang menghadiri tahlilan. Padahal, di saat yang sama mereka masih berusaha menerima kenyataan atas kepergian orang yang dicintai.
“Yang paling berat bukan acaranya, tapi ketika keluarga yang sedang berduka justru harus menjadi pelayan bagi para tamu,” tulisnya dalam unggahan yang kemudian ramai diperbincangkan.
Merasa Tidak Punya Waktu untuk Berduka
Wanita tersebut mengaku dirinya dan ibunya hampir tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat maupun menenangkan diri. Sejak pagi hingga malam mereka disibukkan dengan berbagai persiapan konsumsi serta membereskan rumah setelah acara selesai.
Ia menilai kondisi tersebut membuat keluarga yang seharusnya mendapat dukungan emosional justru dibebani pekerjaan tambahan di tengah suasana duka.
Curhatan itu pun menuai beragam respons dari warganet.
Ada yang Setuju, Ada yang Membela Tradisi
Sebagian pengguna media sosial mengaku memahami keluhan tersebut. Mereka menilai pelaksanaan tahlilan di beberapa tempat memang terkadang menjadi beban ekonomi maupun tenaga bagi keluarga yang ditinggalkan, terutama jika seluruh persiapan harus ditanggung sendiri.
Beberapa warganet bahkan menceritakan pengalaman serupa, ketika keluarga harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk menyediakan makanan dan minuman bagi para tamu selama beberapa hari berturut-turut.
Namun, tidak sedikit pula yang memberikan pandangan berbeda. Mereka menilai persoalannya bukan terletak pada tradisi tahlilan, melainkan pada pelaksanaannya.
Menurut mereka, di banyak daerah justru tetangga, kerabat, dan warga sekitar bergotong royong membantu memasak, menyiapkan konsumsi, hingga membersihkan rumah sehingga keluarga yang berduka tidak terbebani.
Tradisi yang Berbeda di Setiap Daerah
Pelaksanaan tahlilan memang memiliki bentuk yang beragam di Indonesia. Ada daerah yang seluruh konsumsi disiapkan oleh keluarga almarhum, sementara di daerah lain masyarakat sekitar membawa makanan sendiri atau bergotong royong membantu seluruh kebutuhan acara.
Perbedaan budaya tersebut membuat pengalaman setiap keluarga bisa sangat berbeda, sehingga tidak semua pelaksanaan tahlilan dapat disamaratakan.
Menjadi Bahan Diskusi
Curhatan wanita tersebut kembali membuka diskusi mengenai bagaimana tradisi belasungkawa sebaiknya dijalankan. Sebagian berpendapat bahwa esensi utama adalah mendoakan orang yang telah meninggal sekaligus menghibur keluarga yang ditinggalkan. Karena itu, bila pelaksanaannya justru menambah beban fisik, emosional, atau finansial bagi keluarga yang sedang berduka, sebagian orang menilai perlu ada evaluasi terhadap tata cara pelaksanaannya.
Di sisi lain, banyak pihak juga mengingatkan bahwa nilai gotong royong dan saling membantu yang selama ini melekat dalam tradisi tahlilan merupakan bagian penting yang patut dipertahankan agar keluarga yang sedang berduka benar-benar merasa didampingi, bukan terbebani.












