Tanyaislamyuk -Fenomena keripik ubi BRIN ini memang viral dan memicu perdebatan sengit di media sosial. Banyak netizen merasa aneh dan heran mengapa lembaga riset sebesar BRIN dengan anggaran triliunan justru memamerkan inovasi camilan yang biasa dibuat oleh pelaku UMKM atau ibu-ibu PKK.
Keripik Ubi BRIN: Mengapa Viral dan Kontroversinya
Fenomena keripik ubi ciptaan BRIN memicu perdebatan sengit di media sosial. Video dan unggahan menunjukkan lembaga riset nasional memamerkan inovasi camilan sederhana: keripik ubi. Banyak netizen merasa aneh dan mempertanyakan alokasi anggaran triliunan untuk proyek semacam ini, sementara pihak lain menyoroti potensi nilai tambah bagi UMKM.
Mengapa viral
- Unsur kejutan: publik tidak mengharapkan lembaga riset besar mengumumkan produk yang tampak seperti produksi rumahan.
- Isu anggaran: tagar dan komentar menyorot anggaran BRIN yang besar, sehingga publik menuntut inovasi berbiaya tinggi atau teknologi canggih.
- Perdebatan nilai riset: muncul pertanyaan apakah penelitian ini menghadirkan metode, mesin, atau proses baru yang layak disebut inovasi atau sekadar produk jadi.
Argumen kritis netizen
- Pemborosan anggaran: kritik bahwa dana triliunan seharusnya dipakai untuk riset prioritas tinggi.
- Gagal paham peran riset: anggapan bahwa lembaga riset seharusnya fokus pada teknologi tinggi, bukan produk konsumsi.
Sisi pendukung dan konteks lain
Transfer teknologi: penelitian sederhana sekalipun bisa dipatenkan, diproduksi skala besar, atau dipakai untuk pemberdayaan komunitas.
Nilai bagi UMKM: penelitian yang membuat proses produksi lebih efisien atau higienis dapat meningkatkan kualitas dan daya saing produk lokal.
Inovasi proses: jika BRIN mengembangkan mesin, formula pengolahan, atau standar mutu yang baru, manfaatnya bisa berskala luas.













