Tanyaislamyuk – Narasi bahwa taqiyah adalah ciri khas Syiah selama ini diproduksi secara sistematis, diulang di mimbar, media, hingga ruang-ruang dakwah, seolah ia adalah bukti tunggal kemunafikan mazhab Syiah. Padahal secara konseptual, taqiyah hanyalah mekanisme bertahan dalam tekanan sesuatu yang juga dikenal dalam sejarah Islam secara luas. Artinya, sejak awal tuduhan itu bukan berdiri di atas fondasi ilmiah, melainkan lebih dekat pada konstruksi politik: menjadikan Syiah sebagai musuh, dipropaganda seolah Syiah adalah musuh Sunni, lalu kebencian itu dipelihara oleh zionis melalui segerombolan orang yang mengaku paling Sunah/Sunni.
Namun realitas hari ini justru membalik tuduhan itu. Mereka yang paling lantang meneriakkan “Syiah ahli taqiyah”, dalam praktiknya justru memperlihatkan pola yang sama bahkan lebih kompleks. Di satu sisi, mereka tampil dengan simbol-simbol kesalehan, retorika pemurnian agama, dan klaim sebagai penjaga akidah. Tapi di sisi lain, arah politik dan keberpihakan mereka seringkali justru selaras dengan kekuatan yang secara historis menekan dunia Islam. Di sinilah kontradiksi itu tidak lagi bisa disembunyikan.
Lebih lagi, fenomena Salafi-Wahabi yang pura-pura Islam tapi sejatinya mereka zionis. Ini bukan sekadar tuduhan kosong, melainkan refleksi dari sikap dan kebijakan yang terlihat di lapangan—ketika retorika anti-Zionisme dikumandangkan, tetapi kebijakan, aliansi, dan kepentingan justru bergerak searah dengan agenda yang sama. Bahasa agama digunakan sebagai tameng, sementara arah langkahnya justru bertolak belakang dengan kepentingan umat yang diklaim mereka bela.
Iran—dengan segala kontroversinya justru membuka tabir ini. Ketika ia mengambil posisi konfrontatif terhadap dominasi Barat dan Zionisme, narasi lama tentang “Syiah penuh tipu daya” mulai kehilangan pijakan. Sorotan pun bergeser: siapa yang konsisten antara ucapan dan tindakan, dan siapa yang memainkan dua wajah sekaligus? Dalam konteks ini, istilah taqiyah tidak lagi relevan sebagai tuduhan kepada Syiah, melainkan berubah menjadi cermin yang memantulkan ke wajah Salafi-Wahabi itu sendiri.













