Tanyaislamyuk – Dari Rp.17.300 ke Rp. 20.000 pelemahan sekitar 15%. Tidak perlu bencana besar untuk itu terjadi.
Cukup:
Konflik Timur Tengah makin panas. Selat Hormuz tertutup lebih lama. The Fed naikkan suku bunga lagi. Capital outflow dari Indonesia makin deras.
Rupiah Rp. 20.000 artinya dolar 15% lebih mahal dari sekarang.
Semua yang impor naik 15% minimum. Bahan bakar, Elektronik, Kendaraan, Obat-obatan, bahan baku industri, Ketika semua bahan baku naik produsen menaikkan Harga.
Ketika Harga naik daya beli turun, Ketika daya beli turun permintaan melemah, Ketika permintaan melemah badai PHK akan dimulai.
Bom Waktu Utang
Total utang luar negeri Indonesia sekitar $438 miliar.
di Rp. 17.300 setara Rp. 7.577 Triliun.
di Rp. 20.000 setara Rp. 8.760. Perbedaan Rp. 1.183 Triliun hanya dari selisih kurs.
APBN 2026 mematok rupiah Rp. 16.500, sekarang sudah Rp. 17.338, selisih Rp. 838.
Kalau tembus Rp. 20.000 selisihnya Rp. 3.500 per dolar.
Setiap dolar yang pemerintah butuhkan untuk bayar utang menghabiskan Rp. 3.500 lebih banyak dari yang direncanakan.
Dikalikan ratusan miliar dolar utang, angkanya sudah tidak masuk akal.
Ketika APBN tertekan, pemerintah punya pilihan terbatas.
Utang lebih banyak.
Potong belanja.
Atau cabut subsidi.
1998 IMF masuk, subsidi BBM dicabut.
Harga BBM naik drastis, kerusuhan terjadi.
Ketika rupiah melemah, BI harus naikkan suku bunga untuk menarik investor asing agar tidak kabur.
Ketika suku bunga naik, bunga cicilan lo ikut naik.
KPR, KUR, Kredit Kendaraan, Pinjaman Usaha.
Cicilan yang sama tapi bebannya terasa lebih berat karena penghasilan lo dalam rupiah nilainya turun.
Industri yang bergantung pada bahan baku impor Ketika biayanya naik 15-20% tidak punya banyak pilihan.
Mau tidak mau lakukan efisiensi.
efisiensi = PHK.
Naikkan Harga = kalah saing.
Tutup = artinya PHK juga.
Semua sector yang sudah mulai bermasalah sekrang akan makin tertekan jika rupiah jatuh ke Rp. 20.000













