Tanyaislamyuk – Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:
وَإِيَّاكُمْ ومحدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالَةً وَ كُلِّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
“Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”.
Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.
Pertama. Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (‘led). Tindakan ini berarti suatu kelalancangan terhadap Allah dan RasulNya, dimana kita menetapkannya sebagai ‘led (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya. Kedua. Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
من تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.
Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya.
Ada banyak cara untuk menyenangkan anak tanpa harus melanggar syariat Allah, merusak aqidah dan tanpa harus meniru tradisi kaum kafir (tasyabbuh)
Tanamkan aqidah yang benar kepada anak semenjak dini, kalau ulang tahun bukanlah ajaran dari agama Islam tapi tradisi kaum kafir (yahudi dan Nasrani) dan yakinkan padanya bahwa merayakan ulang tahun bisa mengundang kemarahan/murka Allah.













