Tanyaislamyuk – Sudah menjadi rahasia umum di tengah masyarakat kita, saat bendera kuning berkibar, dapur justru mengepul lebih hebat dari biasanya. Di balik untaian doa tahlil yang dikirimkan untuk almarhum, ada wajah-wajah lelah keluarga yang harus memutar otak: “Besok suguhannya apa? Cukup tidak anggarannya?”
Fenomena ini menjadi sorotan tajam karena dinilai mulai melenceng dari esensi empati. Alih-alih mendapatkan waktu untuk memproses kesedihan, keluarga duka di Jepara seringkali terjebak dalam tekanan sosial untuk menyajikan jamuan selama tujuh hari berturut-turut.
Beban Ganda: Dompet Tipis di Tengah Tangis
Bagi keluarga yang mampu, menjamu tamu mungkin bukan masalah. Namun, bagi warga kurang mampu, tradisi ini adalah “badai setelah gempa”.
Tekanan Psikologis: Saat mental jatuh karena kehilangan, mereka dipaksa tetap berdiri tegak di depan kompor.
Beban Finansial: Biaya jajan, hingga rokok untuk tamu selama 7 hari bisa memakan biaya jutaan rupiah. Tak jarang, ada yang terpaksa berutang demi menjaga “gengsi” atau rasa sungkan kepada tetangga.
Kontradiksi Agama: Padahal, dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW justru menganjurkan para tetangga untuk mengirimkan makanan kepada keluarga yang berduka (Sunnah Ja’far), bukan sebaliknya.
Saatnya Jepara “Back to Sunnah” dan Gotong Royong
Beberapa desa di Jepara sebenarnya sudah mulai melakukan pergeseran positif. Berikut adalah langkah yang bisa kita mulai bersama:
- Iuran Kematian (RT/RW)
Biaya pemakaman hingga konsumsi ditanggung oleh kas warga. - Tetangga Membawa Nasi
Keluarga duka tidak perlu memikirkan dapur. - Langkah Nyata
Masyarakat bergotong royong untuk membantu keluarga yang sedang berduka. - Dampak Positif
Mengurangi beban keluarga duka dan mempererat hubungan antarwarga. - Edukasi Tokoh Agama
Mengingatkan bahwa jamuan bukan kewajiban keluarga duka. - Menghapus Gengsi
Tidak perlu memaksakan hidangan jika kondisi ekonomi sulit.













