Tanyaislamyuk – Di tengah banyaknya pernikahan kedua, muncul satu pertanyaan yang sering memancing perdebatan panas di media sosial:
“Kalau ayah sambung tidak wajib menafkahi anak sambungnya, lalu sebenarnya untuk apa dia menikahi ibunya?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi menyentuh banyak sisi — agama, moral, hukum, hingga rasa kemanusiaan.
Sebab dalam kenyataan hidup, ketika seorang perempuan menikah lagi sambil membawa anak, maka yang menikah bukan hanya dua orang dewasa. Ada hati anak yang ikut berharap mendapat perlindungan, kasih sayang, dan rasa aman.
Dalam Hukum Islam, Siapa yang Wajib Menafkahi Anak?
Dalam fikih Islam, kewajiban utama menafkahi anak memang berada pada ayah kandungnya. Selama ayah kandung masih hidup dan mampu, tanggung jawab itu tidak otomatis pindah kepada ayah sambung.
Artinya, secara hukum agama, ayah sambung tidak memiliki kewajiban mutlak seperti ayah biologis.
Tetapi masalahnya, kehidupan rumah tangga tidak selalu selesai hanya dengan kalimat “tidak wajib”.
Karena ada perbedaan besar antara:
- tidak wajib,
- dengan tidak peduli.
Menikahi Ibu Berarti Siap Dengan Realitanya
Ketika seorang pria memutuskan menikahi perempuan yang sudah memiliki anak, maka sebenarnya ia juga sedang menerima paket kehidupan yang sudah ada.
Ia tidak menikahi perempuan itu dalam ruang kosong.
Ada anak yang setiap hari makan di rumah itu.
Ada kebutuhan sekolah.
Ada rasa takut kehilangan figur ayah.
Ada luka batin karena perceraian atau kehilangan sebelumnya.
Maka meski secara hukum tidak wajib, banyak orang menilai secara moral seorang ayah sambung tetap memiliki tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.
Karena bagaimana mungkin seseorang ingin hidup bersama ibunya, tetapi menutup mata terhadap anaknya?
Anak Tidak Pernah Meminta Dilahirkan Dalam Situasi Rumit
Yang sering dilupakan orang dewasa adalah: anak tidak memilih keadaan hidupnya.
Mereka tidak memilih orang tuanya bercerai.
Mereka tidak memilih punya ayah sambung.
Mereka juga tidak memilih menjadi “beban tambahan” dalam rumah tangga baru.
Karena itu, ketika seorang anak merasa diabaikan oleh ayah sambungnya, luka yang muncul sering kali lebih dalam daripada sekadar soal uang.
Mereka merasa tidak diterima.
Dan perasaan seperti itu bisa membekas hingga dewasa.
Ayah Sambung Bisa Menjadi Sosok Paling Berarti
Di sisi lain, sejarah juga membuktikan banyak ayah sambung justru menjadi figur terbaik dalam hidup seorang anak.
Banyak anak yang lebih dihargai, lebih disayangi, bahkan lebih diperhatikan oleh ayah sambung dibanding ayah kandungnya sendiri.
Karena menjadi ayah sejatinya bukan hanya soal darah.
Tetapi soal:
- hadir saat dibutuhkan,
- melindungi,
- mendidik,
- dan memberi rasa aman.
Tidak sedikit pula laki-laki yang dengan sadar berkata:
“Aku menikahi ibunya, maka aku juga siap menerima anaknya.”
Kalimat sederhana, tetapi sangat besar maknanya.
Pernikahan Bukan Sekadar Hubungan Dua Orang Dewasa
Kadang ada pria yang ingin menikahi seorang ibu tunggal, tetapi tidak mau ikut repot mengurus anaknya.
Ingin menikmati perannya sebagai suami, tetapi menolak realitas sebagai figur orang tua di rumah itu.
Di sinilah konflik sering muncul.
Karena keluarga bukan kontrak egois yang hanya mengambil bagian menyenangkan saja.
Kalau seorang pria benar-benar mencintai perempuan itu, maka seharusnya ia juga belajar mencintai kehidupan yang datang bersamanya — termasuk anak-anaknya.
Tidak Wajib Bukan Berarti Tidak Mulia
Dalam agama, banyak hal yang mungkin tidak wajib, tetapi sangat mulia jika dilakukan.
Menafkahi anak sambung dengan ikhlas bisa menjadi bentuk kasih sayang yang bernilai besar di hadapan Tuhan.
Karena anak-anak itu tumbuh dari apa yang mereka rasakan setiap hari.
Jika mereka tumbuh dengan cinta, mereka akan belajar mencintai.
Jika mereka tumbuh dengan penolakan, mereka akan belajar merasa tidak layak dicintai.
Dan kadang, satu sikap baik dari ayah sambung bisa menyelamatkan masa depan psikologis seorang anak.
Penutup
Jadi, jika ayah sambung memang tidak memiliki kewajiban mutlak menafkahi anak sambungnya, lalu apa fungsi dia menikahi ibunya?
Jawabannya mungkin bukan sekadar soal hukum.
Tetapi soal hati, tanggung jawab, dan kemanusiaan.
Karena keluarga bukan hanya dibangun oleh hubungan darah.
Tetapi juga oleh siapa yang memilih tetap hadir, peduli, dan bertahan.













