Tanyaislamyuk – Media sosial kembali diramaikan dengan kisah yang memicu perdebatan panas di kalangan netizen. Seorang mahasiswi dikabarkan nekat menawarkan dirinya untuk mengajak dosennya “staycation” demi bisa mendapatkan akses mengikuti sidang skripsi.
Kisah ini viral setelah beredar tangkapan percakapan yang diduga memperlihatkan adanya komunikasi tidak pantas antara mahasiswa dan dosen terkait urusan akademik. Banyak warganet menilai kasus semacam ini menunjukkan rusaknya moral dalam dunia pendidikan, sementara sebagian lainnya mempertanyakan tekanan akademik yang membuat mahasiswa rela melakukan apa saja agar bisa lulus.
Dalam percakapan yang beredar, mahasiswi tersebut disebut meminta bantuan kepada dosennya agar urusan sidang skripsinya dipermudah. Namun, alih-alih menempuh jalur akademik biasa, ia justru menawarkan ajakan “staycation” yang kemudian memancing reaksi keras publik.
Belum diketahui secara pasti bagaimana kronologi lengkap kejadian tersebut maupun apakah percakapan itu benar-benar autentik. Namun isu ini sudah telanjur menjadi bahan perbincangan luas di berbagai platform media sosial.
Banyak netizen menyayangkan apabila dunia pendidikan tinggi sampai diwarnai praktik-praktik tidak sehat seperti ini. Kampus yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu dan membangun integritas dianggap justru tercoreng oleh hubungan transaksional antara mahasiswa dan oknum pengajar.
“Kalau benar terjadi, ini bukan cuma salah mahasiswanya, tapi juga menunjukkan adanya penyalahgunaan relasi kuasa,” tulis seorang pengguna media sosial.
Sebagian lainnya menilai bahwa tekanan untuk cepat lulus, biaya kuliah yang mahal, hingga ketakutan mengulang semester sering membuat mahasiswa berada dalam kondisi mental yang tertekan. Dalam situasi tertentu, keputusan-keputusan nekat pun bisa terjadi.
Di sisi lain, publik juga mengingatkan pentingnya profesionalisme dosen dalam menjaga batas etik dengan mahasiswa. Sebab, hubungan akademik memiliki ketimpangan posisi yang rentan disalahgunakan apabila tidak diawasi dengan baik.
Hingga kini belum ada klarifikasi resmi dari pihak kampus terkait viralnya isu tersebut. Namun kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan membutuhkan sistem pengawasan etik yang lebih kuat, baik untuk mahasiswa maupun tenaga pengajar.













