Tanyaislamyuk – Muhammadiyah Islamic College (MIC) berdiri tegak di tengah sekularisme Singapura. Didirikan mandiri oleh NGO Persatuan Muhammadiyah Singapura pada 2000, kampus ini bukan milik PP Muhammadiyah RI, melainkan “Sister Organization”. Resmi terdaftar di Kemdikbud setempat, MIC fokus mencetak sarjana Islam yang taat syariat sekaligus toleran demi merawat harmoni multirasial di sana.
Terletak di pinggir jalan Lorong 13 Geylang, Singapura, kampus mungil yang memiliki 7 lantai dengan model ruko (rumah toko) ini sepintas terlihat seperti tempat bisnis. Ternyata, bangunan itu ditata rapi untuk tempat pendidikan agama Islam, dengan model kursus dan pendidikan akademik. Suatu aktivitas yang tidak terlalu populer bagi negara Singapura yang sekuler dan modern itu.
Semua anggota BPH UM Surabaya diterima oleh Direktur MIC, Faiszah Abdul Hamid MS. Mereka diterima seorang diri oleh Faiszah di ruang pertemuan lantai 2 gedung MIC. Kunjungan BPH UM Surabaya ini dipimpin oleh Ketua BPH, Dr Sulthon Amien, diikuti Prof Dr Zainudin Maliki, Dr Syamsudin MA, Dra Siti Dalilah Candrawati MAg, Indra Nur Fauzi SE MM MA, Muhammad Budi Pahlawan SH Notaris, dan Aribowo.
Pertemuan tersebut berlangsung santai dengan saling mengisi pembicaraan satu sama lain. Direktur MIC, Faiszah, yang juga seorang ahli psikologi, membawa suasana pertemuan terasa santai dan informal. Ia menjelaskan para pimpinan MIC lain sedang ada aktivitas, sehingga terpaksa Direktur sendiri yang menerimanya.
MIC sebagai lembaga pendidikan Islam di Singapura pada awal berdirinya di tahun 2001, bekerja sama dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat. Meski belum tumbuh sebagai perguruan tinggi (PT) yang kuat, namun MIC merupakan satu-satunya lembaga kursus agama Islam pasca sekolah menengah atas di Singapura.













