Tanyaislamyuk – Sebuah aksi yang dilakukan oleh sekelompok aktivis Hindu garis keras di negara bagian Maharashtra kembali memicu perdebatan mengenai kebebasan beragama dan meningkatnya ketegangan komunal di India. Mereka melakukan ritual yang disebut sebagai “pensucian” menggunakan air kencing sapi di lokasi yang sebelumnya digunakan oleh sejumlah perempuan Muslim untuk melaksanakan salat.
Insiden tersebut terjadi di kawasan bersejarah Shaniwar Wada, Kota Pune, Maharashtra. Peristiwa bermula setelah sebuah video yang memperlihatkan beberapa perempuan Muslim melaksanakan salat di kompleks benteng bersejarah itu beredar luas di media sosial. Video tersebut kemudian memicu protes dari sejumlah organisasi Hindu nasionalis.
Tak lama setelah video tersebut viral, sekelompok massa yang dipimpin politisi dari Partai BJP, Medha Kulkarni, mendatangi lokasi dan menggelar ritual yang mereka sebut sebagai “pemurnian”. Dalam ritual itu, mereka menyiram area tersebut dengan gaumutra (air kencing sapi) serta melantunkan doa-doa Hindu sebagai simbol “membersihkan” lokasi tersebut.
Aksi tersebut langsung menuai kritik dari berbagai kalangan. Tokoh-tokoh oposisi, aktivis hak sipil, hingga pemerhati kebebasan beragama menilai tindakan itu berpotensi memperkeruh hubungan antarumat beragama dan memperdalam polarisasi di India. Mereka mempertanyakan penggunaan simbol-simbol keagamaan untuk merespons tindakan ibadah yang dilakukan secara damai.
Di sisi lain, pihak yang melakukan ritual berpendapat bahwa salat di kawasan bersejarah tersebut dianggap tidak sesuai dengan fungsi situs dan mengklaim ritual itu bertujuan menjaga kesucian tempat menurut keyakinan mereka. Peristiwa ini kemudian berkembang menjadi perdebatan politik yang melibatkan sejumlah partai dan organisasi masyarakat di India.
Kasus ini kembali menyoroti meningkatnya sensitivitas terhadap isu agama di India dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai organisasi hak asasi manusia sebelumnya juga telah mengingatkan bahwa ketegangan antara komunitas Hindu dan Muslim di negara tersebut semakin sering dipicu oleh isu-isu simbolik yang kemudian berkembang menjadi kontroversi nasional.













