Ustadz yang Masih Merokok Tidak Layak Diambil Ilmunya Karena Dia Belum Selesai Dengan Dirinya Sendiri. Lalu Bagaimana Mungkin Dia Bisa Membimbing Orang Lain?

images (52)

Tanyaislamyuk – Pernyataan ini mungkin terdengar keras, bahkan dianggap berlebihan oleh sebagian orang. Namun, bukankah seorang ustadz seharusnya menjadi teladan bagi umat, bukan hanya pandai menyampaikan dalil, tetapi juga berusaha mengamalkan apa yang diajarkannya?

Merokok bukan sekadar persoalan kebiasaan pribadi. Ada dampak kesehatan yang nyata, sementara dalam pandangan banyak ulama kontemporer, merokok dihukumi haram karena bahayanya. Lantas, bagaimana mungkin seseorang mengajak umat menjaga diri, menjauhi kebinasaan, dan menaati ajaran agama, sementara dirinya sendiri masih mempertahankan kebiasaan yang membahayakan?

Namun, apakah seorang ustadz yang masih merokok otomatis tidak layak diambil ilmunya? Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Ada yang berpendapat bahwa guru agama harus menjadi teladan dalam setiap aspek kehidupan. Ada pula yang mengingatkan bahwa kebenaran ilmu tidak otomatis gugur hanya karena orang yang menyampaikannya masih memiliki kekurangan.

Seseorang bisa saja mengetahui hukum suatu perkara, tetapi masih kesulitan mengamalkannya. Kecanduan nikotin bukan sesuatu yang selalu mudah dihentikan. Perjuangan seseorang melawan kebiasaan buruk juga tidak selalu terlihat oleh orang lain. Karena itu, mengkritik perilakunya tentu berbeda dengan menolak seluruh ilmu yang disampaikannya.

Meski demikian, seorang ustadz tetap memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar sebagai panutan masyarakat. Ilmunya semestinya mendorongnya untuk terus memperbaiki diri, bukan menjadi alasan untuk merasa cukup dengan kemampuan berbicara. Sebab, dakwah bukan hanya tentang apa yang keluar dari lisan, tetapi juga tentang kesungguhan memperjuangkan kebaikan dalam kehidupan nyata.

Jadi, apakah kita harus meninggalkan ilmu dari ustadz yang masih merokok, atau tetap mengambil ilmunya sambil mengkritik kebiasaannya? Barangkali yang perlu kita hindari adalah dua sikap ekstrem: menganggap semua ilmunya salah karena satu kekurangan, atau membenarkan semua perilakunya hanya karena dia seorang ustadz.

Pada akhirnya, seorang guru agama tetaplah manusia yang bisa salah dan sedang berproses. Kita boleh menuntut keteladanan tanpa merasa berhak merendahkan. Kita boleh mengkritik kebiasaan buruk tanpa menutup mata terhadap kebenaran yang disampaikannya.

Sebab, ukuran kebenaran bukan semata-mata siapa yang berbicara, melainkan juga apakah perkataannya sesuai dengan dalil dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bagaimana menurut Anda: apakah ustadz yang masih merokok kehilangan kelayakannya sebagai panutan, ataukah kita harus membedakan antara kualitas ilmu seseorang dan kelemahan pribadinya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About the Author

Hadir sebagai sumber inspirasi dan edukasi seputar ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Menyajikan konten ringan hingga mendalam tentang ibadah, akhlak, sejarah, serta fenomena kehidupan umat Muslim masa kini. Dengan pendekatan yang relevan dan mudah dipahami, website ini bertujuan menjadi ruang belajar, refleksi, dan penguatan iman bagi setiap pengunjung

Search the Archives

Akses terhadap liputan jurnalistik investigatif dan laporan-laporan terkini selama bertahun-tahun.