Tanyaislamyuk – Ini adalah pertanyaan yang mungkin membuat sebagian orang tidak nyaman, bahkan dianggap menggugat keyakinan. Jika Tuhan telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya, mengapa masih ada manusia yang meninggal karena kelaparan? Mengapa ada anak-anak yang tidur dengan perut kosong, sementara di tempat lain makanan justru terbuang sia-sia?
Bukankah Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang?
Sebagian orang menjawab bahwa rezeki sudah diatur, manusia hanya perlu berusaha dan bertawakal. Namun, bagaimana dengan mereka yang sudah berusaha keras tetapi tetap tidak mendapatkan makanan yang cukup? Apakah mereka kurang berusaha, atau ada persoalan yang lebih besar di balik penderitaan mereka?
Di sinilah perdebatan menjadi menarik. Apakah jaminan rezeki berarti setiap manusia pasti mendapatkan makanan yang cukup untuk bertahan hidup, ataukah keyakinan tersebut memiliki makna yang berbeda?
Dalam perspektif Islam, rezeki memang diyakini berada dalam ketetapan Allah. Namun, jaminan rezeki tidak berarti setiap manusia pasti hidup berkecukupan atau terbebas dari kelaparan. Kehidupan juga melibatkan ujian, ikhtiar, ketimpangan sosial, konflik, bencana, dan keputusan manusia sendiri.
Bahkan, kelaparan tidak selalu terjadi karena makanan benar-benar tidak tersedia. Ada kalanya makanan melimpah, tetapi akses terhadapnya terhalang kemiskinan, perang, ketidakadilan, atau distribusi yang buruk.
Lalu, jika sebagian orang memiliki kekayaan berlimpah sementara sebagian lainnya kesulitan mendapatkan sesuap nasi, bukankah kondisi tersebut juga menjadi pertanyaan moral bagi manusia? Bukankah agama mengajarkan kepedulian terhadap fakir miskin, kewajiban zakat, dan pentingnya menolong orang yang membutuhkan?
Mungkin persoalannya bukan sekadar mempertanyakan mengapa Tuhan mengizinkan kelaparan terjadi, tetapi juga mempertanyakan mengapa manusia yang mampu menolong justru terkadang memilih untuk berpaling.
Jika rezeki diyakini sudah dijamin Tuhan, apakah itu alasan untuk tenang dan pasrah, atau justru tanggung jawab bagi manusia untuk memastikan tidak ada orang di sekitarnya yang kelaparan?
Bagaimana menurut Anda? Apakah kematian akibat kelaparan harus dipahami sebagai bagian dari ujian kehidupan, ataukah kita terlalu sering menggunakan konsep takdir untuk menghindari tanggung jawab sosial?
Mari berdiskusi dengan pikiran terbuka. Sebab, pertanyaan yang sulit tidak selalu bertujuan meruntuhkan iman; terkadang, pertanyaan justru mengajak kita memahami keyakinan sekaligus memperbaiki cara kita memperlakukan sesama.













