Tanya Islam Yuk

Situs yang menyajikan tulisan dan seputar islam dan realitas umat di tengah zaman yang terus berubah

Benarkah Indonesia Jadi Juara Dengan Negara Paling Rajin Berdoa Tapi Malas Berlogika?

whatsapp image 2026 04 18 at 12.46.37

Tanyaislamyuk – Narasi yang menyebut Indonesia sebagai “negara paling rajin berdoa tapi malas berlogika” beredar luas dalam bentuk infografik yang mencantumkan data persentase berdoa harian dari sejumlah negara.

Dalam gambar tersebut, Indonesia ditempatkan di posisi teratas dengan angka 95 persen, diikuti Kenya dan Nigeria masing-masing 84 persen, serta beberapa negara lain seperti Malaysia, Filipina, hingga Brasil.

Sumber yang dicantumkan adalah Pew Research Center dan World Bank. Namun, cara penyajian data ini patut dikritisi secara serius.

Pertama, data yang ditampilkan sebenarnya hanya menggambarkan tingkat religiositas, khususnya frekuensi berdoa harian, bukan ukuran kemampuan berpikir logis suatu bangsa.

Tidak ada satu pun indikator dalam riset Pew Research maupun World Bank yang mengukur “kemalasan berlogika” sebagai variabel ilmiah. Artinya, kesimpulan bahwa negara dengan tingkat doa tinggi otomatis “malas berpikir” adalah bentuk lompatan logika yang tidak memiliki dasar metodologis.

Kedua, terjadi penyederhanaan yang berbahaya. Religiusitas dan rasionalitas bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Dalam banyak tradisi intelektual, termasuk dalam sejarah Islam maupun Barat, praktik keagamaan justru berjalan beriringan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat.

Mengaitkan keduanya secara dikotomis, seolah semakin religius berarti semakin tidak rasional adalah bentuk bias yang mengabaikan kompleksitas sosial dan budaya.

Ketiga, infografik ini mengandung framing yang problematik. Dengan memilih judul provokatif dan menambahkan elemen visual seperti otak dan ekspresi emosional, pembaca diarahkan untuk menerima kesimpulan tertentu tanpa melalui proses berpikir kritis. Ini adalah teknik retorika, bukan penyajian data ilmiah.

Bahkan, jika dilihat lebih jauh, daftar negara yang ditampilkan sebagian besar adalah negara berkembang, sehingga narasi tersebut juga berpotensi mengandung bias stereotip terhadap negara-negara di luar Barat.

Keempat, perlu dipahami bahwa indikator seperti “persentase berdoa harian” sangat dipengaruhi oleh faktor budaya, tradisi, dan struktur sosial. Ia tidak bisa dijadikan ukuran kualitas intelektual masyarakat.

Negara dengan tingkat religiusitas tinggi bisa saja memiliki capaian akademik, inovasi, dan kapasitas berpikir yang baik, begitu pula sebaliknya.

Kesimpulannya, infografik tersebut bukanlah representasi realitas yang objektif, melainkan bentuk opini yang dibungkus dengan data parsial. Menggunakan data religiositas untuk menyimpulkan kualitas logika sebuah bangsa adalah kesalahan kategori (category error) dalam logika. Karena itu, publik perlu lebih kritis dalam membaca informasi semacam ini, agar tidak terjebak pada narasi yang terlihat ilmiah, tetapi sebenarnya menyesatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About the Author

Hadir sebagai sumber inspirasi dan edukasi seputar ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Menyajikan konten ringan hingga mendalam tentang ibadah, akhlak, sejarah, serta fenomena kehidupan umat Muslim masa kini. Dengan pendekatan yang relevan dan mudah dipahami, website ini bertujuan menjadi ruang belajar, refleksi, dan penguatan iman bagi setiap pengunjung

Search the Archives

Akses terhadap liputan jurnalistik investigatif dan laporan-laporan terkini selama bertahun-tahun.