Tanyaislamyuk – Pernahkah kamu mendengar sebuah pernyataan yang berbunyi, “Mayoritas umat Nabi Muhammad ﷺ meninggal dunia karena ‘ain”?
Kalimat ini cukup sering beredar di media sosial. Bahkan, tidak sedikit orang yang langsung mempercayainya dan menganggap bahwa sebagian besar kematian umat Islam disebabkan oleh penyakit ‘ain.
Namun, benarkah demikian?
Dalam Islam, keberadaan ‘ain memang diakui. ‘Ain adalah pengaruh buruk yang terjadi melalui pandangan mata seseorang, yang dapat berkaitan dengan rasa kagum ataupun hasad, atas izin Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Al-‘ainu haqq.”
Artinya: “‘Ain itu benar adanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ada pula riwayat yang sering dijadikan dasar munculnya anggapan bahwa banyak umat Nabi Muhammad ﷺ meninggal karena ‘ain. Riwayat tersebut menyebutkan makna bahwa setelah ketetapan dan takdir Allah, banyak dari umat Nabi Muhammad ﷺ yang meninggal karena anfus atau ‘ain.
Namun, riwayat ini perlu dipahami dengan hati-hati. Para ulama membahas derajat dan pemaknaannya, sehingga tidak tepat jika kemudian disederhanakan menjadi sebuah fakta statistik bahwa “mayoritas umat Islam sepanjang zaman meninggal karena ‘ain.”
Islam mengajarkan bahwa kematian seseorang tetap terjadi atas ketetapan Allah SWT. Penyakit, kecelakaan, usia tua, maupun sebab-sebab lainnya hanyalah bagian dari sebab yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Karena itu, kita juga tidak boleh dengan mudah menyimpulkan bahwa seseorang yang tiba-tiba sakit, mengalami musibah, atau meninggal dunia pasti terkena ‘ain.
Meski demikian, seorang Muslim tetap dianjurkan untuk menjaga diri dengan memperbanyak doa dan dzikir, membaca Al-Qur’an, serta memohon perlindungan kepada Allah. Ketika melihat sesuatu yang membuat kagum, kita juga dianjurkan untuk mendoakan keberkahan dan mengingat Allah agar kekaguman tersebut tidak membawa keburukan.
Jadi, ‘ain memang nyata dalam ajaran Islam, tetapi pernyataan bahwa mayoritas umat Nabi Muhammad ﷺ wafat karena ‘ain tidak seharusnya disampaikan sebagai fakta mutlak tanpa penjelasan mengenai sumber dan derajat riwayatnya.
Yang terpenting bukanlah hidup dalam ketakutan terhadap pandangan manusia, melainkan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dan meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menimpa seseorang kecuali dengan izin-Nya.
Kalau kamu sendiri, di umur berapa pertama kali mengetahui tentang ‘ain? Dan apakah sebelumnya kamu pernah mendengar bahwa banyak kematian dikaitkan dengan ‘ain?













