Tanyaislamyuk – Setiap kali ada pasien meninggal di rumah sakit, media sosial hampir selalu dipenuhi komentar.
“Dokternya lalai.”
“Rumah sakitnya salah.”
“Perawatnya tidak becus.”
Belum lagi tuntutan hukum, hujatan, hingga penyebaran identitas tenaga kesehatan di internet.
Namun, pernahkah kita melihat kemarahan sebesar itu ditujukan kepada dukun?
Padahal tidak sedikit orang yang datang ke pengobatan alternatif dalam kondisi sakit, lalu tetap meninggal dunia.
Mengapa respons masyarakat bisa sangat berbeda?
Jawabannya tidak sesederhana “karena masyarakat membenci tenaga kesehatan.”
Ada beberapa faktor yang membuat persepsi itu muncul.
Ekspektasi yang Berbeda
Saat seseorang datang ke rumah sakit, ia datang dengan harapan sembuh.
Rumah sakit memiliki dokter, alat medis, laboratorium, obat-obatan, hingga teknologi modern.
Karena itulah masyarakat memiliki ekspektasi yang sangat tinggi.
Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, rasa kecewa sering berubah menjadi kemarahan.
Sementara kepada dukun, banyak orang datang dengan keyakinan spiritual atau sebagai ikhtiar terakhir.
Jika tidak sembuh, sering kali dianggap “belum jodohnya”, “belum waktunya”, atau “Tuhan berkehendak lain.”
Ekspektasinya berbeda sejak awal.
Tenaga Kesehatan Memiliki Tanggung Jawab Profesional
Dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan, standar profesi, kode etik, serta aturan hukum.
Karena memiliki kewajiban profesional, maka tindakan mereka memang boleh dikritisi apabila diduga terjadi kelalaian atau malapraktik.
Ini berbeda dengan pengobatan tradisional yang dalam banyak kasus tidak memiliki standar ilmiah yang sama.
Artinya, kritik kepada tenaga kesehatan bukan sesuatu yang salah.
Yang salah adalah menyimpulkan adanya kelalaian tanpa mengetahui fakta medis dan hasil investigasi.
Media Sosial Mempercepat Penghakiman
Satu video berdurasi 30 detik dapat membuat ribuan orang langsung menyimpulkan siapa yang salah.
Padahal proses penanganan pasien bisa berlangsung berjam-jam bahkan berhari-hari.
Tidak semua tindakan medis dapat dipahami hanya dari potongan video.
Akibatnya, opini publik sering terbentuk lebih cepat daripada proses klarifikasi.
Tidak Semua Kematian Bisa Dicegah
Inilah kenyataan yang paling sulit diterima.
Ilmu kedokteran mampu meningkatkan peluang hidup, tetapi tidak bisa menjamin keselamatan setiap pasien.
Ada penyakit yang sudah terlalu berat.
Ada kondisi yang datang terlambat.
Ada komplikasi yang tetap bisa terjadi meskipun seluruh prosedur telah dilakukan sesuai standar.
Karena itu, kematian tidak selalu berarti ada kesalahan tenaga kesehatan.
Di Sisi Lain, Nakes Juga Tidak Kebal Kritik
Bukan berarti semua tenaga kesehatan selalu benar.
Faktanya, memang ada kasus malapraktik, komunikasi yang buruk, pelayanan yang tidak manusiawi, hingga pelanggaran etik.
Kasus seperti itu harus diusut secara profesional melalui audit medis dan mekanisme hukum yang berlaku.
Masyarakat berhak meminta transparansi dan keadilan.
Namun, menuduh semua tenaga kesehatan bersalah tanpa bukti juga merupakan bentuk ketidakadilan.
Jadi, Fakta atau Hoax?
Pernyataan bahwa “masyarakat tidak pernah menyalahkan dukun, tetapi sangat mudah menyalahkan nakes” adalah generalisasi yang berlebihan.
Faktanya, tenaga kesehatan memang lebih sering menjadi sasaran kritik karena bekerja dalam sistem yang memiliki standar profesional dan akuntabilitas yang jelas. Di sisi lain, sebagian masyarakat juga cenderung memberi toleransi lebih besar kepada pengobatan alternatif karena perbedaan ekspektasi, keyakinan, dan cara memandang hasil pengobatan.
Yang perlu dihindari adalah dua sikap yang sama-sama keliru:
- Menganggap semua kematian di rumah sakit pasti akibat kelalaian tenaga kesehatan.
- Menganggap semua tenaga kesehatan pasti benar dan tidak boleh dikritik.
Sikap yang lebih adil adalah menunggu fakta, memahami kondisi medis secara utuh, dan membedakan antara hasil yang tidak sesuai harapan dengan kelalaian yang benar-benar terbukti. Dengan begitu, pasien mendapatkan keadilan, sementara tenaga kesehatan juga terlindungi dari penghakiman yang terburu-buru.













