Tanyaislamyuk – Komentar itu tidak datang dari orang yang benci agama.
Komentar itu datang dari orang yang lelah.
Lelah melihat lembaga yang seharusnya lantang, tapi memilih diam di waktu yang paling genting. Diam ketika kementerian agama terseret korupsi. Diam ketika ada yang memilih bermitra dengan pihak yang menduduki tanah para nabi. Diam ketika mimbar-mimbar diisi oleh mereka yang menjual ayat untuk kepentingan kekuasaan.
Dan justru vokal soal ikan.
Kelelahan itu valid.
Kita tidak perlu berpura-pura sebaliknya.
Tapi ada satu hal yang lebih dalam dari sekadar kekecewaan pada institusi.
14 abad yang lalu — ketika belum ada lembaga fatwa, belum ada undang-undang lingkungan, belum ada siapapun yang bisa kita tunjuk dan kita minta pertanggungjawaban.
Rasulullah ﷺ sudah bicara.
إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
“Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik.”
(HR. Muslim No. 1955)
Beliau tidak menunggu ada yang mengingatkan.
Beliau tidak butuh konferensi pers untuk bersikap baik kepada makhluk yang bahkan tidak bisa protes.
Karena bagi Rasulullah ﷺ, Ihsan bukan kewajiban institusi. Ihsan adalah karakter.












