Tanyaislamyuk – Selama dua tahun dibombardir, sekitar 35 ribu warga Gaza mengalami gangguan pendengaran, mayoritas anak-anak. Dentuman bom berulang dan runtuhnya layanan kesehatan membuat banyak kasus yang seharusnya bisa ditangani sejak dini kini berisiko menjadi permanen.
Salah satunya Sundus (6), yang kehilangan sekitar 50 persen kemampuan mendengar. Ia membutuhkan implan koklea, namun prosedur tersebut tidak tersedia akibat pembatasan alat medis. Kondisi ini mengancam kemampuan komunikasi, pendidikan, dan perkembangan sosialnya.
Tenaga medis berupaya melakukan deteksi dini di tengah keterbatasan, tetapi minimnya alat bantu dengar dan perangkat diagnostik membuat penanganan tidak optimal. Hanya sebagian kecil pasien yang berhasil mendapat bantuan.
Krisis ini terjadi di tengah situasi kemanusiaan yang lebih luas: jutaan warga mengungsi, infrastruktur hancur, dan akses bantuan masih dibatasi. Gangguan pendengaran menjadi luka tak terlihat yang berdampak jangka panjang, membuat ribuan anak Gaza tumbuh dalam kesunyian akibat perang.












