Tanyaislamyuk – Di banyak daerah di Indonesia, ada fenomena yang sering membuat orang mengernyitkan dahi. Seseorang yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan masih memiliki banyak tanggungan, justru rela meminjam uang puluhan juta rupiah demi menggelar hajatan yang meriah.
Pertanyaannya, kenapa?
Apakah karena mereka tidak bisa mengatur keuangan?
Belum tentu.
Faktanya, bagi sebagian masyarakat, hajatan bukan sekadar pesta. Hajatan adalah soal harga diri, kehormatan keluarga, dan posisi sosial di tengah lingkungan.
Banyak orang takut dianggap pelit, tidak mampu, atau tidak menghormati tamu jika mengadakan acara secara sederhana. Akibatnya, mereka memilih berhutang demi menyelenggarakan hajatan yang dianggap “layak” menurut standar masyarakat sekitar.
Ada juga budaya timbal balik yang kuat. Ketika selama bertahun-tahun seseorang telah memberikan sumbangan kepada tetangga yang punya hajatan, ia merasa harus mengadakan acara besar agar sumbangan yang pernah ia keluarkan bisa kembali.
Dalam kondisi seperti ini, hajatan berubah dari acara syukur menjadi semacam investasi sosial.
Masalahnya, tamu pulang dalam beberapa jam, tetapi hutang bisa bertahan bertahun-tahun.
Tidak sedikit keluarga yang setelah hajatan justru harus berjuang membayar cicilan, menjual aset, bahkan terjebak dalam kesulitan ekonomi yang lebih berat daripada sebelumnya.
Ironisnya, banyak tamu yang hadir sebenarnya tidak terlalu peduli seberapa mewah dekorasi, seberapa mahal katering, atau seberapa megah panggung yang disediakan. Namun karena takut menjadi bahan pembicaraan, tuan rumah sering memaksakan diri melampaui kemampuan finansialnya.
Padahal kebahagiaan sebuah hajatan tidak ditentukan oleh kemewahannya.
Pernikahan yang sederhana tetap sah. Syukuran yang sederhana tetap bernilai. Acara yang sederhana tetap bisa menghadirkan kebersamaan.
Yang sering membuat orang menderita bukanlah kemiskinan itu sendiri, melainkan keinginan untuk terlihat tidak miskin di hadapan orang lain.
Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang.
Sebab tidak ada kehormatan dalam pesta yang dibangun di atas hutang, dan tidak ada aib dalam kesederhanaan yang disesuaikan dengan kemampuan.
Karena setelah semua tamu pulang, yang tersisa bukan lagi suara musik dan ramainya undangan, melainkan tagihan yang harus dibayar oleh keluarga yang mengadakannya.













