Tanyaislamyuk – Menjelang Iduladha, pemandangan seperti ini selalu terulang setiap tahun. Media sosial penuh dengan unggahan unboxing gadget terbaru, motor baru, nongkrong di kafe mahal, hingga liburan yang menghabiskan jutaan rupiah. Namun ketika bicara soal qurban, mendadak banyak orang berubah jadi sangat perhitungan.
“Qurban mahal.”
“Nanti dulu deh.”
“Keuangan lagi tipis.”
Padahal dalam waktu yang sama, sebagian orang bisa dengan santai membeli ponsel belasan juta tanpa berpikir panjang. Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan yang cukup menampar: kenapa urusan dunia terasa ringan untuk dibeli, sementara urusan ibadah justru terasa berat?
Qurban sebenarnya bukan hanya soal membeli kambing atau sapi. Di dalamnya ada simbol keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Daging qurban bukan hanya dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada tetangga, kaum dhuafa, dan mereka yang mungkin setahun sekali baru bisa merasakan makan daging layak.
Ironisnya, banyak orang rela cicilan gadget bertahun-tahun demi gengsi dan pengakuan sosial, tetapi merasa sayang mengeluarkan uang untuk ibadah yang manfaatnya jauh lebih besar. Bahkan ada yang hafal spesifikasi kamera terbaru, namun lupa bahwa sebagian rezekinya juga ada hak orang lain.
Tentu tidak semua orang wajib berqurban. Islam pun tidak memaksa mereka yang benar-benar tidak mampu. Namun yang sering menjadi sorotan adalah mereka yang sebenarnya mampu, tetapi prioritas hidupnya sudah berubah. Standar kebutuhan perlahan bergeser: gadget dianggap kebutuhan utama, sedangkan qurban dianggap beban tambahan.
Di era sekarang, citra dan gaya hidup memang sering lebih dipentingkan daripada nilai pengorbanan. Banyak orang takut dianggap ketinggalan tren, tapi tidak takut kehilangan kesempatan beribadah. Padahal gadget yang hari ini dibanggakan beberapa tahun lagi akan jadi barang usang, sedangkan pahala dan manfaat qurban dipercaya tetap mengalir.
Artikel ini bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan menjadi bahan renungan bersama. Sebab pertanyaannya sederhana: kalau untuk memuaskan gengsi saja kita berani keluar banyak uang, kenapa untuk ibadah yang membawa manfaat sosial dan spiritual justru terasa begitu berat?
Mungkin masalahnya bukan soal mampu atau tidak mampu. Tetapi soal apa yang benar-benar kita anggap penting dalam hidup.













