Tanyaislamyuk – Di tengah semakin maraknya kasus pelecehan seksual yang setiap hari memenuhi media sosial dan pemberitaan, publik kembali dibuat gaduh oleh fenomena selebrasi kelulusan yang dinilai semakin “bebas”. Bukan lagi sekadar coret-coret seragam atau konvoi keliling kota, kini banyak video wisuda dan perayaan kelulusan dipenuhi aksi berpakaian super ketat, berjoget vulgar, hingga konten yang dianggap sengaja mengundang perhatian.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah ini bentuk kebebasan berekspresi, atau justru bentuk hilangnya rasa menjaga diri?
Sebagian netizen menilai tren tersebut sangat memprihatinkan. Mereka menganggap banyak perempuan saat ini terlalu sibuk mengejar validasi media sosial sampai lupa bahwa tubuh bukan sekadar alat hiburan publik. Apalagi momen kelulusan sejatinya adalah simbol perjuangan pendidikan, pengorbanan orang tua, dan pencapaian akademik — bukan ajang pamer sensualitas.
“Baru kemarin teriak soal pelecehan, sekarang malah upload joget-joget pakai pakaian minim di depan umum,” tulis salah satu komentar yang ramai disukai netizen.
Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang menilai pola pikir seperti itu justru berbahaya. Menurut mereka, pakaian ketat tidak pernah bisa dijadikan alasan pembenaran terhadap pelecehan seksual. Mereka menegaskan bahwa pelaku pelecehan tetap salah, apa pun pakaian korbannya.
Perdebatan pun semakin panas. Ada yang mengatakan perempuan harus lebih menjaga cara berpakaian demi mengurangi risiko kejahatan sosial. Tetapi ada pula yang menolak keras narasi tersebut karena dianggap menyalahkan perempuan atas tindakan laki-laki yang tidak bisa mengontrol diri.
Meski begitu, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah media sosial telah mengubah cara banyak anak muda memaknai perhatian. Semakin viral, semakin dianggap keren. Semakin berani tampil terbuka, semakin cepat mendapat likes dan followers. Akibatnya, batas antara ekspresi diri dan eksploitasi diri menjadi semakin kabur.
Ironisnya, banyak yang rela melakukan apa saja demi beberapa detik popularitas. Bahkan momen sakral seperti kelulusan pun kini sering berubah menjadi panggung pencitraan demi konten.
Pertanyaannya sekarang:
apakah masyarakat memang semakin sensitif, atau justru standar kesopanan yang perlahan mulai hilang?
Karena ketika kritik dianggap body shaming, nasihat dianggap menghakimi, dan semua dibungkus atas nama kebebasan, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hanya cara orang berpakaian — tetapi juga arah budaya kita sedang dibawa ke mana.













