Tanyaislamyuk – Tempat ibadah yang dikenal dengan nama Mosquée de l’Unicité itu mengusung konsep inklusif dan terbuka bagi kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Masjid tersebut menjadi sorotan karena menerapkan praktik ibadah yang berbeda dari kebanyakan masjid konvensional.
Jemaah laki-laki dan perempuan salat dalam satu saf tanpa pemisahan, serta perempuan diperbolehkan menjadi imam dalam salat Jumat.
Untuk alasan keamanan, lokasi tempat ibadah itu tidak diumumkan secara luas. Pengelola memilih merahasiakan lokasi demi melindungi jemaah dari ancaman dan penolakan sebagian kelompok Muslim konservatif di Prancis.
Zahed dikenal sebagai aktivis Muslim gay yang juga mendirikan organisasi Homosexual Muslims of France (HM2F). Ia menyebut banyak Muslim homoseksual merasa tertekan dan memilih meninggalkan agama karena sulit menemukan ruang ibadah yang menerima identitas mereka.
Menurut Zahed, kehadiran masjid tersebut menjadi alternatif bagi kelompok minoritas seksual yang merasa tidak nyaman beribadah di masjid umum. Jumlah anggota komunitas itu disebut meningkat dari hanya enam orang menjadi ratusan dalam beberapa tahun.
Masjid ini juga disebut sebagai salah satu tempat ibadah pertama di Eropa yang secara terbuka menerima homoseksual dan tidak memisahkan jemaah laki-laki serta perempuan saat salat.
Namun keberadaan masjid tersebut memicu kontroversi di kalangan tokoh agama Islam di Prancis. Sejumlah imam menilai konsep yang diterapkan sebagai penyimpangan dari ajaran Islam pada umumnya.
Salah satu imam di Prancis, Abdallah Zekri, menyatakan pihaknya memahami adanya Muslim homoseksual, tetapi menolak pendirian masjid khusus untuk kelompok tersebut.













